Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perang di Timur Tengah Akan Percepat Pengembangan EBT

📅 Rabu, 08 Apr 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Perang di Timur Tengah Akan Percepat Pengembangan EBT Doc: AFP/Nicolas TUCAT
Ket. Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memberikan konferensi pers di Brussels, baru-baru ini.

Paris – Krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan akan mempercepat pengembangan energi terbarukan (EBT), energi nuklir, serta kendaraan listrik di berbagai negara.

Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyatakan bahwa krisis saat ini jauh lebih serius dibandingkan krisis energi sebelumnya.

Dalam wawancara dengan surat kabar Le Figaro yang terbit Selasa (7/4), Birol mengatakan krisis energi saat ini “lebih serius daripada krisis tahun 1973, 1979, dan 2022 jika digabungkan”.

Meski terjadi lonjakan harga bahan bakar akibat blokade de facto Iran di Selat Hormuz, ia menilai tetap ada peluang positif terhadap perubahan sistem energi global.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa transformasi tersebut tidak akan terjadi secara instan.

“Ini akan memakan waktu bertahun-tahun. Ini bukan solusi untuk krisis saat ini, tetapi geopolitik energi akan mengalami transformasi mendalam,” kata Birol.

Menurutnya, beberapa teknologi akan berkembang lebih cepat dibandingkan lainnya, terutama energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.

“Hal itu berlaku untuk energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, yang dapat dipasang dengan sangat cepat. Kita akan segera beralih ke energi terbarukan, mungkin dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Di sisi lain, Birol mengingatkan negara-negara untuk tetap berhati-hati dalam mengelola konsumsi energi dalam jangka pendek. Ia bahkan memperingatkan potensi terjadinya “April hitam” jika kondisi tidak membaik.

“Jika selat tersebut memang tetap tertutup sepanjang April, kita akan kehilangan minyak mentah dan produk olahan dua kali lebih banyak daripada yang terjadi pada bulan Maret,” katanya.

Paling Rentan

Birol menambahkan bahwa Selat Hormuz juga merupakan jalur penting bagi distribusi komoditas lain, termasuk pupuk, sehingga dampaknya bisa meluas ke sektor pangan.

Ia menilai negara-negara maju seperti di Eropa, Jepang, dan Australia akan terdampak, namun negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan menghadapi krisis ini.

Menurutnya, negara berkembang berpotensi mengalami tekanan berat akibat kenaikan harga minyak dan gas, lonjakan harga pangan, serta percepatan inflasi secara umum.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Merugi, Pemkab Kudus Serahkan Pengelolaan Taman Krida Wisata ke Swasta
    Preview komentar:
    Pemberian masa tenggang atau grace period selama tiga ...
  • Berpotensi Melemah Terbatas, 13 Agustus 2026
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai pergerakan Rupiah hari ...
  • Microchip Perbarui Ethernet Sensor Bridge untuk Perkuat Konektivitas Edge AI
    Preview komentar:
    Penyusutan dimensi perangkat hingga 60 persen yang dipadukan ...
Advertisement
injourney
Advertisement
asd
Advertisement
astra2
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Advertisement
gaia musik festival

Ada Pidato Presiden, Hindari Kawasan Lalin Sekitar DPR

41 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Ada Pidato Presiden, Hindar...

Rumah Vinna Ledy Anggraheni Digeledah KPK

46 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Rumah Vinna Ledy Anggraheni...
Advertisement
astra
Advertisement
bankjakarta-detail-mobile
Advertisement
gaia musik festival
Ada Pidato Presiden, Hindari Kawasan Lalin Sekitar DPR

Ada Pidato Presiden, Hindari Kawasan Lalin Sekitar DPR

14 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.