Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

B50 Bukan Strategi Ideal Turunkan Permintaan BBM Jangka Panjang

📅 Kamis, 02 Apr 2026, 00:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
B50 Bukan Strategi Ideal Turunkan Permintaan BBM Jangka Panjang Doc: istimewa
Ket. Chief Executive Officer, Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengapresiasi langkah pemerintah menghadapi tekanan geopolitik, namun dia berpandangan kalau pemerintah jangan sampai salah langkah mencari solusi untuk keluar dari krisis.

JAKARTA - Indonesia akan memberlakukan kebijakan Biodiesel 50 (B50) atau campuran minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) sebesar 50 persen terhadap solar yang efektif akan berlaku mulai 1 Juli mendatang. Langkah itu diklaim akan menghemat subsidi senilai 48 triliun rupiah.

Chief Executive Officer, Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengapresiasi langkah pemerintah menghadapi tekanan geopolitik, namun dia berpandangan kalau pemerintah jangan sampai salah langkah mencari solusi untuk keluar dari krisis.

Fabby menegaskan bahwa program B50 bukan strategi ideal untuk menurunkan permintaan BBM dalam jangka panjang dan tidak layak secara ekonomi dan fiskal. Walaupun program B50 dapat mengurangi kebutuhan gasoil (minyak diesel/solar) dalam jangka pendek tapi tidak berarti meningkatkan ketahanan energi dalam jangka panjang.

“Mandat biodiesel dengan campuran yang lebih tinggi akan berdampak pada alokasi minyak sawit yang lebih besar untuk bahan bakar, penurunan ekspor yang berdampak pada penerimaan negara, tekanan logistik, dan kenaikan beban finansial,” kata Fabby.

Sejumlah fakta ulas Fabby perlu menjadi perhatian pemerintah dalam program tersebut. Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis CPO saat inijelasnya  20-30 persen lebih mahal daripada minyak diesel konvensional. Dengan HIP FAME Maret 2026 di angka 13.910 rupiah per liter (belum termasuk ongkir), terdapat selisih signifikan dibanding harga diesel yang hanya berkisar 11.000-12.100 rupiah per liter pada asumsi harga minyak mentah dunia berkisar 90-100 dollar AS per barel.

Menurut dia, transisi ke B50 berpotensi meningkatkan subsidi biodiesel sebesar 29 triliun rupiah di atas alokasi B40, melampaui total penerimaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tahun ini.

Lonjakan harga CPO global dan pelemahan rupiah tambahnya makin memperlebar disparitas harga. Kondisi itu menciptakan risiko defisit anggaran subsidi yang tidak lagi mampu ditutup oleh pungutan ekspor.

Selanjutnya tegas Fabby, implementasi B50 membutuhkan 20,1 juta ton FAME, yang akan meningkatkan permintaan CPO domestik dan memangkas volume ekspor CPO sebesar 4–5 juta ton, dengan tingkat produksi CPO yang diperikirakan sama dengan 2025.

Penurunan ekspor itu memicu kehilangan penerimaan negara dari pajak dan bea keluar sebesar 11,9-14,6 triliun rupiah, sebuah kontradiksi kebijakan di mana negara kehilangan pendapatan justru saat beban subsidi melonjak.

“Program B50 berisiko membebankan biaya subsidi kepada petani kecil melalui skema Pajak Ekspor (PE) yang menekan harga tandan buah segar (TBS). Hasil kajian Pranata UI (2025) menunjukkan kenaikan PE untuk menyokong biodiesel dapat menggerus harga TBS hingga 1.725 rupiah per kilo gram (kg), yang secara sistematis berpengaruh pada petani mandiri,”sebutnya.

Kajian IESR juga menunjukkan dengan mempertimbangkan manfaat dan biaya serta kemampuan subsidi biodiesel, dan dampak pada petani dan penghematan dari impor, maka pencampuran 40 persen FAME dengan minyak solar (B40) merupakan tingkat pencampuran yang paling optimal, aman dan risiko fiskal yang terkelola dengan lebih baik.

Oleh karena itu IESR merekomendasikan agar pemerintah tidak melanjutkan program B50, dan tetap pada program B40. Upaya penurunan BBM dapat dilakukan dengan mendorong elektrifikasi transportasi secara agresif.

Untuk mendapatkan hasil optimal penghematan BBM dalam menengah dan jangka panjang, pemerintah perlu segera melakukan percepatan elektrifikasi transportasi kendaraan penumpang, bus, dan kendaraan roda dua, mendorong penggunaan transportasi publik, perbaikan kualitas bahan bakar minyak dengan mengadopsi standar Euro-4 ke atas, dan peningkatan standar efisiensi bahan bakar kendaraan bermotor.

>>

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Xi: Tiongkok Dukung Myanmar dalam Jaga Kedaulatan

47 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Xi: Tiongkok Dukung Myanmar...

Negara G7 Desak Russia Akhiri Perang dengan Ukraina

55 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Negara G7 Desak Russia Akhi...
Ekonomi
Utang RI Naik, Risiko Fiska...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Malam Suro: Dialektika Ruang Perjumpaan Tradisi, Agama, dan Sejarah

Malam Suro: Dialektika Ruang Perjumpaan Tradisi, Agama, dan Sejarah

16 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.