Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tanusang, Pasir Putih yang Muncul dan Menghilang

📅 Jumat, 27 Mar 2026, 07:19 WIB | Oleh:
Tanusang, Pasir Putih yang Muncul dan Menghilang Doc: Istimewa
Ket. Tanusang sendiri merupakan istilah lokal yang berarti pulau pasir yang muncul di tengah laut saat air sedang surut.

Pulau Geser di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, yang unik ini menawarkan bonus keindahan berupa dua gosong pasir yang timbul dan tenggelam seiring pasang surut air laut. Hamparan pulau pasir berwarna putih bersih yang memanjang di sisi selatan dan barat tersebut menjadi objek tak terlupakan bagi wisatawan yang berkunjung ke pulau ini.

Warga setempat menyebut kedua gosong pasir ini dengan nama Tanusang Geser untuk yang lebih panjang dan besar, serta Tanusang Pasir Putih untuk yang berukuran lebih kecil. Tanusang sendiri merupakan istilah lokal yang berarti pulau pasir yang muncul di tengah laut saat air sedang surut.

Gosong pasir di sekitarnya menjadi salah satu lanskap pesisir yang unik sekaligus dinamis. Hamparan pasir putih ini kerap muncul di tengah laut saat air surut, lalu perlahan “menghilang” ketika pasang naik. Fenomena tersebut menjadikannya tidak sekadar objek wisata visual, tetapi juga bagian dari sistem alam yang terus bergerak secara konsisten.

Secara kasat mata, gosong pasir di Pulau Geser tampak seperti pulau kecil tak berpenghuni. Permukaannya datar, didominasi pasir putih terang dari pecahan karang, dan dikelilingi air laut dangkal berwarna biru kehijauan. Tidak terdapat vegetasi permanen di sana, menegaskan bahwa bentukan ini bukanlah pulau tetap, melainkan sebuah endapan sementara.

Kemunculannya sangat bergantung pada siklus harian pasang surut. Pada waktu tertentu, gosong bisa terlihat luas dan kering, memungkinkan orang berjalan kaki di atasnya. Namun dalam hitungan jam, area yang sama dapat kembali tergenang air laut sepenuhnya.

Dinamika Laut

Gosong pasir terbentuk dari proses panjang yang melibatkan ekosistem terumbu karang. Pecahan karang yang dihasilkan oleh aktivitas biologis, seperti gigitan ikan pemakan karang, berubah menjadi butiran pasir halus. Material ini kemudian diangkut oleh arus laut dan gelombang, lalu mengendap di area dangkal hingga membentuk hamparan pasir yang memanjang.

Menurut berbagai kajian ilmiah, gosong adalah penanda alami dari sistem terumbu karang yang aktif. Keberadaannya menunjukkan bahwa proses sedimentasi dan dinamika arus di wilayah tersebut masih berlangsung dengan baik. Di kawasan Geser, kondisi perairan yang relatif tenang serta keberadaan terumbu karang yang luas mempercepat pembentukan gosong, meski faktor yang sama juga membuatnya mudah berubah bentuk.

Fungsi Ekologis

Meski terlihat sederhana, gosong pasir memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Kawasan ini menjadi zona transisi antara laut dalam dan perairan dangkal, tempat berbagai biota laut berkembang. Beberapa fungsi utamanya antara lain sebagai area singgah bagi burung laut, habitat sementara bagi ikan dan organisme kecil, serta pelindung alami yang membantu meredam energi gelombang.

Keberadaan gosong juga sering menjadi indikator kesehatan terumbu karang di sekitarnya. Jika kondisi gosong stabil dan terus terbentuk, hal itu menandakan ekosistem karang di kawasan dimaksud masih produktif.

Bagi masyarakat Pulau Geser, gosong pasir memiliki nilai praktis yang tinggi. Nelayan kerap menjadikannya sebagai titik istirahat saat melaut, sekaligus lokasi strategis untuk memancing atau memasang alat tangkap tradisional. Selain manfaat tersebut, gosong juga berfungsi sebagai penanda navigasi alami. Dalam tradisi pelayaran lokal, posisi gosong membantu nelayan mengenali jalur aman di perairan dangkal yang kompleks.

Belakangan, keberadaan gosong juga mulai dilirik sebagai potensi wisata bahari. Keunikan “pulau sementara” di tengah laut menawarkan pengalaman berbeda, terutama bagi wisatawan yang ingin menikmati laut dangkal dengan panorama terbuka yang memukau.

Gosong pasir di Pulau Geser memperlihatkan bagaimana laut membentuk daratan secara sementara namun berulang. Ia bukan sekadar lanskap indah, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara biologi laut dan dinamika oseanografi. hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Aset Beku Iran Cair, Trump ...
Nasional
Kemenbud Dorong Pelurusan S...
Megapolitan
RS PELNI Perkuat Kapabilita...
Nasional
Kemenbud Targetkan Seribu C...
Nasional
Menkes Usulkan agar Penderi...
Ada Event Lari Lintas Alam, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Seminggu

Ada Event Lari Lintas Alam, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Seminggu

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.