Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Komnas HAM Dalami Opsi Jalur Peradilan di Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis

📅 Kamis, 26 Mar 2026, 16:45 WIB | Oleh:
Komnas HAM Dalami Opsi Jalur Peradilan di Kasus Penyiraman Air Keras ke Aktivis Doc: antara foto
Ket. Koordinator Subkomisi Penegakan HAM sekaligus Komisioner Mediasi Komnas HAM Pramono Ubaid Tanthowi

JAKARTA - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) masih mendalami kemungkinan jalur peradilan dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus, termasuk opsi dibawa ke peradilan sipil atau militer.

Koordinator Subkomisi Penegakan HAM sekaligus Komisioner Mediasi Komnas HAM Pramono Ubaid Tanthowi menegaskan lembaganya belum mengambil kesimpulan terkait forum peradilan yang paling tepat dalam kasus penyiraman air keras tersebut.

"Soal peradilan mana yang lebih baik menangani, tentu saja Komnas HAM belum bisa mengambil kesimpulan. Kami masih dalam tahap pengumpulan keterangan dari banyak pihak," ujar Pramono di Jakarta, Kamis (26/3).

Ia menjelaskan proses pendalaman dilakukan dengan menghimpun informasi dari berbagai pihak guna memastikan konstruksi peristiwa penyiraman air keras secara utuh dan objektif.

"Kami terus berkomunikasi dengan teman-teman KontraS, teman-teman kuasa hukum, dengan teman-teman LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban), kita intensif," katanya.

Sebelumnya, Komnas HAM telah meminta keterangan dari organisasi masyarakat sipil, termasuk KontraS, untuk menelusuri kronologi awal kejadian hingga penanganan korban penyiraman air keras.

"Kita sudah ketemu dengan teman-teman KontraS, bahkan sebelum Lebaran kita sudah ketemu dengan mereka. Kita gali informasi terkait dengan kronologis pertama kali Saudara AY datang ke kosan misalnya, lalu bagaimana proses Saudara AY dibawa dari kosan sampai ke rumah sakit," ujarnya.

Selain itu, Komnas HAM juga membuka kemungkinan memanggil pihak lain yang relevan dalam waktu dekat untuk melengkapi data.

"Dalam beberapa hari ke depan, kami tentu saja akan meminta keterangan dari pihak-pihak lain. Nanti tunggu saja informasinya, pihak mana saja yang nanti akan kita minta keterangan," kata Pramono.

Ia menegaskan bahwa seluruh proses ini menjadi dasar sebelum Komnas HAM menentukan sikap, termasuk terkait indikasi pelanggaran HAM dan implikasi hukumnya.

"Kesimpulan apakah ini terbukti pelanggaran HAM atau tidak, ya nanti akan kami putuskan setelah proses pengumpulan keterangan, informasi, data dari berbagai pihak itu kita selesaikan," ujarnya.

Komnas HAM memastikan pendalaman dilakukan secara menyeluruh agar penanganan kasus tidak menimbulkan polemik hukum, serta tetap menjamin prinsip keadilan dan perlindungan hak korban dalam proses peradilan yang akan ditempuh.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Uji Coba Pendaratan Pesawat...
Megapolitan
Daftar Lokasi Samsat Kelili...
Megapolitan
Urus SIM Tak Repot Lagi, Ad...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.