Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menjala Harapan di Danau Singkarak, Penyintas Bangkit Pelan-Pelan

📅 Senin, 23 Mar 2026, 12:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Menjala Harapan di Danau Singkarak, Penyintas Bangkit Pelan-Pelan Doc: ANTARA/ Kuntum Khaira Riswan
Ket. Nelayan mengeluarkan ikan bilih dari jaring tangkapan di tepian Danau Singkarak, Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuah Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Minggu (22/3/2026).

TANAH DATAR – Pagi di tepian Danau Singkarak datang pelan, ditemani kabut tipis yang masih enggan beranjak. Di antara riak air yang tenang, perahu-perahu kecil mulai bergerak satu per satu.

Ada yang mendayung perlahan, ada pula yang sibuk menyiapkan jaring—tanda bahwa aktivitas nelayan akhirnya kembali berdenyut.

Beberapa waktu lalu, bencana hidrometeorologi sempat memaksa semuanya berhenti. Danau yang biasanya jadi sumber penghidupan mendadak berubah jadi ruang penuh kekhawatiran.

Namun pagi itu, Minggu (22/3), ada semangat yang terasa berbeda. Para nelayan kembali ke air, meski dengan langkah yang masih hati-hati.

Tak semua berjalan seperti dulu. Hasil tangkapan belum sepenuhnya pulih, peralatan yang rusak masih diperbaiki seadanya, dan kebutuhan sehari-hari tetap harus dipikirkan.

Tapi bagi mereka, kembali melaut adalah langkah penting—bukan sekadar mencari ikan, melainkan juga memulihkan harapan.

Di darat, keluarga menunggu dengan sabar. Ada yang menjemur jaring, ada pula yang membantu menyiapkan bekal sederhana. Kehidupan perlahan disusun kembali, sedikit demi sedikit, seiring perahu yang kembali berlayar.

Pemulihan memang belum selesai. Ekonomi warga masih bergerak tertatih, menyesuaikan diri dengan kondisi yang belum sepenuhnya pulih. Namun dari tepian danau ini, terlihat jelas satu hal: mereka tidak menyerah. Dari riak kecil di permukaan air, harapan itu terus bergerak—pelan, tapi pasti.

Adisman (66), yang sibuk mengangkat ikan dari jala, mengatakan ia mulai kembali menebar jala sejak dua minggu terakhir.

Menangkap ikan bilih, jenis ikan endemik khas Maninjau, merupakan salah satu sumber penghasilannya.

"Saya memasang tidak tiap hari, kadang dalam seminggu pasang tiga kali, kadang dua kali. Ini kemarin dua hari tidak pasang. Kalau mau ikan bilih, baru pasang, tidak menentu," kata Adisman yang menempati hunian sementara (huntara) di Malalo, Tanah Datar, seorang diri, tepat sebelum Ramadhan.

Ikan bilih tangkapannya pada hari ini diperkirakan hanya mencapai 0,5 kilogram.

Namun, di hari lain, hasilnya bisa mencapai 1 kilogram atau bahkan 2 kilogram.

Jika hasil tangkapannya sedikit, ia akan gunakan sebagai konsumsi pribadi. Namun, jika tangkapannya di atas 1 kilogram, akan dijual ke pengepul dengan harga mulai dari Rp60 ribu per kilogram.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur   

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.