Tips Mudik Aman bagi Penderita GERD: Cara Atasi Asam Lambung Saat Puasa
📅 Selasa, 17 Mar 2026, 17:05 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA - Kembali ke kampung halaman di masa Lebaran (mudik) telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia. Namun, bagi Anda yang memiliki riwayat Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), perjalanan jauh dapat menjadi tantangan tersendiri. Apalagi jika perjalanan mudik dilakukan saat masih menjalankan ibadah puasa.
Perubahan jam makan, kelelahan fisik, hingga stres selama di perjalanan sering kali memicu naiknya asam lambung. Karenanya, penting untuk mengetahui penanganan yang tepat jika kondisi GERD kambuh di perjalanan.
Dr. dr. Hasan Maulahela, Sp.PD-KGEH, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi RS Pondok Indah – Pondok Indah menjelaskan, Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit refluks asam lambung adalah gangguan pencernaan di mana cairan asam lambung “naik” dari lambung ke kerongkongan dan mengiritasi lapisan bagian dalam saluran pencernaan yang dilewati asam lambung tersebut.
“Umumnya saat terjadi kekambuhan, penderita GERD mengalami rasa asam atau pahit di mulut (regurgitasi asam) dan sensasi perih atau panas terbakar di dada dan ulu hati (heartburn). Selain itu, penderitanya juga kerap merasakan mual dan muntah, begah, nyeri dada, bahkan gangguan pernapasan,” ujarnya di Jakarta baru-baru ini.
Saat dalam perjalanan, kondisi GERD dapat dipicu oleh berbagai faktor, antara lain: terburu-buru makan dan minum saat sahur atau ketika berbuka, mengonsumsi makanan pedas, berlemak, atau minuman berkafein berlebihan, posisi duduk terlalu lama yang menyebabkan tekanan pada area perut sehingga mendorong asam lambung naik, serta faktor stres dan kelelahan fisik selama menempuh perjalanan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pertolongan Pertama saat GERD Menyerang
Ketika merasakan gejala GERD tetapi Anda masih berada dalam perjalanan dan kondisi berpuasa, lakukan langkah berikut untuk meredakan gejala:
- Longgarkan pakaian: Jika menggunakan ikat pinggang atau pakaian yang ketat, segera longgarkan. Tekanan pada area perut dapat memperburuk aliran balik asam lambung ke atas.
- Atur posisi duduk: Tegakkan posisi duduk, jangan membungkuk atau meringkuk. Jika memungkinkan, sandarkan punggung dengan posisi kepala dan dada lebih tinggi dari perut untuk memanfaatkan gaya gravitasi agar asam lambung tidak terus naik.
- Lakukan pernapasan dalam: Tarik napas melalui hidung dan buang perlahan melalui mulut. Hal ini membantu merelaksasi otot saluran cerna dan mengurangi rasa panik yang dapat memperburuk produksi asam lambung.
Jika kondisi tidak mereda dan terjadi gejala berat yang ditandai dengan nyeri ulu hati sangat hebat disertai muntah atau sesak napas, maka sebaiknya jangan memaksakan diri. Segerakan berbuka dengan air hangat (bukan air dingin atau air es) dan konsumsi obat jika diperlukan. Hindari mengonsumsi makanan maupun minuman yang dapat memperburuk kondisi lambung.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Namun, jika gejala GERD yang Anda alami tak berangsur pulih, segera kunjungi unit emergency rumah sakit terdekat untuk penanganan yang tepat. Penting untuk mengetahui daftar alamat rumah sakit di jalur mudik yang Anda lewati,” sarannya.
Diagnosis GERD dengan Endoskopi
Apabila Anda telah menjaga pola makan tetapi masih sering mengalami kekambuhan GERD, maka diperlukan pemeriksaan medis lebih dalam untuk menegakkan diagnosis dan mendapatkan penanganan yang tepat. Pemeriksaan GERD umumnya dimulai dengan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui gejala yang dialami pasien.
“Kemudian untuk melihat kondisi fisik saluran cerna secara akurat, dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi dan hepatologi dapat menyarankan pemeriksaan penunjang, yakni endoskopi,” ucapnya.
Endoskopi merupakan prosedur medis menggunakan endoskop, yaitu selang lentur yang ujungnya terdapat kamera untuk melihat langsung lapisan kerongkongan, lambung, usus dua belas jari, dan organ terkait. Pada kasus GERD, prosedur ini disebut gastroskopi yang khusus digunakan untuk memeriksa saluran pencernaan bagian atas. Prosedur ini memungkinkan dokter mendeteksi peradangan, luka, atau infeksi secara detail.
Untuk kondisi GERD yang lebih kompleks, teknologi endoscopic ultrasound (EUS) dapat digunakan. EUS menggabungkan endoskopi dengan teknologi ultrasonografi (USG) berupa probe mini. Miniprobe EUS memindai pada frekuensi antara 12-20 MHz dan menghasilkan gambar dengan resolusi tinggi ketika transducer USG berada di dekat lesi dan dinding saluran pencernaan serta jaringan di sekitarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!