EBT Kunci Indonesia Tekan Biaya Energi
📅 Senin, 09 Mar 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
Selama fondasi sistem energinya tetap berbasis fosil, target penurunan emisi jelas akan sulit tercapai.
JAKARTA - Ketika perang di Timur Tengah kembali berkecamuk, negara-negara importir energi seperti minyak dan gas mulai panik. Hal itu karena produksi dan jalur distribusi energi dipastikan akan terhambat, sehingga bisa menimbulkan dampak pada ketidakstabilan di dalam negeri karena ancaman pasokan habis dan harga melonjak (inflasi).
Dalam situasi panik itu, baru lah Pemerintah kembali menggembar-gemborkan akan pentingnya transisi energi dari fosil ke Energi Baru Terbarukan (EBT), yang progresnya tidak mengalami kemajuan signifikan, bahkan terkesan stagnan.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan, perang di Timur Tengah bukan hanya sekedar panggung yang memprtontonkan teknologi persenjataan mutakhir, tetapi juga menyibak ketahanan energi negara-negara importir energi seperti Indonesia yang dinilai sangat rentan.
Kerentanan itu berasal dari struktur energi yang 85 persen didominasi oleh energi fossil. Guna mengatasi kerentanan itu, maka perlu melakukan diversifikasi sumber energi dan asalnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Dalam hal ini sangat logis kalau kita memanfaatkan energi terbarukan sebesar-besarnya untuk mengurangi kebergantungan pada energi fossil,” kata Fabby.
Menurut dia, ada tiga alasan mendasar mengapa strategi itu logis dan harus dilakukan.Pertama, Indonesia kaya dengan sumber energi terbarukan dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Kedua, harga energi terbarukan lebih murah dari energi fossil, yang mana harga energi fossil dipengaruhi tidak saja supply-demand, tetapi juga risiko geopolitik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penggunaan energi terbarukan yang besar akan menurunkan biaya energi di Indonesia di jangka menengah, ketika bauran telah mencapai di atas 20 persen.
Ketiga, pengembangan energi terbarukan dalam memperkuat ekonomi Indonesia, memberdayakan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja.
“Perlu saya ingatkan, pemerintah jangan terjebak dengan preferensi di masa lalu tetapi saat ini juga harus dihitung benar-benar biayanya,” kata Fabby.
Dia mencontohkan kebijakan Bahan Bakar Nabati (BBN) yang ditargetkan menjadi 50 persen pencampuran biodiesel. Ini bukan kebijakan yamg tepat. BBN dari minyak sawit itu mahal dan kalah dalam hal efektivitas biaya dibandingkan opsi kebijakan akselerasi kendaraan listrik.
BBN selama ini disubsidi melalui skema pungutan ekspor. Crude palm oil (CPO) harga saat ini tinggi dan kontribusi ke dana sawit di Badan Pengelola Dana Perkebunaj Kelapa Sawit (BPDPKS) masih cukup menanggug selisih harga antara BBM & FAME (FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dari CPO. Kalau harga CPO atau ekspornya jatuh, skema ini akan berantakan dan dapat membebani keuangan negara.
“Jadi diperlukan kajian yang benar untuk menentukan strategi diversifikasi pasokan energi kita,”pungkas Fabby.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!