El Nino Berpotensi Terulang pada Tahun 2026, Bumi Semakin Panas
📅 Senin, 02 Mar 2026, 20:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Antara
PARIS – Fenomena cuaca El Nino yang menyebabkan pemanasan global berpotensi terbentuk akhir tahun ini, dan dapat mendorong suhu global ke tingkat rekor tertinggi.
Menurut Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) pada Senin (2/3), ada kemungkinan 50 hingga 60 persen El Nino akan berkembang selama periode Juli-September dan seterusnya.
Organisasi Meteorologi Dunia akan mengeluarkan pembaruan tentang El Nino pada hari Selasa (3/3).
El Nino dan saudaranya yang lebih dingin, La Nina, adalah dua fase dari pola iklim alami di seluruh Pasifik tropis yang dikenal sebagai El Nino-Southern Oscillation (ENSO).
Nelayan Peru dan Ekuador menciptakan istilah El Nino ("anak laki-laki" atau "Anak Kristus") pada abad ke-19 untuk kedatangan arus laut yang luar biasa hangat di lepas pantai yang mengurangi hasil tangkapan mereka tepat sebelum Natal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para ilmuwan memilih nama La Nina sebagai kebalikan dari El Nino. Di antara kedua peristiwa tersebut, terdapat fase "netral".
El Nino
El Nino dapat melemahkan angin pasat yang bertiup konsisten dari timur ke barat melintasi Pasifik tropis, memengaruhi cuaca dengan memengaruhi pergerakan air hangat di samudra yang luas ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pelemahan ini menghangatkan sisi tengah dan timur samudra yang biasanya lebih dingin, mengubah curah hujan di Pasifik khatulistiwa dan pola angin di seluruh dunia.
Panas berlebih di permukaan Samudra Pasifik melepaskan energi ke atmosfer yang dapat meningkatkan suhu global untuk sementara waktu, itulah sebabnya tahun-tahun El Nino seringkali menjadi tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat.
"Dengan asumsi faktor-faktor lain tetap sama, peristiwa El Nino biasanya menyebabkan peningkatan sementara suhu rata-rata global sekitar 0,1C-0,2C," kata Nat Johnson, seorang ahli meteorologi NOAA, kepada AFP.
El Nino terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali.
Fenomena ini biasanya mengakibatkan kondisi yang lebih kering di seluruh Asia Tenggara, Australia, Afrika bagian selatan, dan Brasil bagian utara, serta kondisi yang lebih basah di Tanduk Afrika, Amerika Serikat bagian selatan, Peru, dan Ekuador.
Rekor lain
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!