Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tarif AS Bikin Pasar Gelisah, IHSG Hari Ini Ambruk di Penutupan Perdagangan

📅 Kamis, 26 Feb 2026, 18:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tarif AS Bikin Pasar Gelisah, IHSG Hari Ini Ambruk di Penutupan Perdagangan Doc: ANTARA FOTO/ Bayu Pratama S
Ket. Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan tarif Amerika Serikat.

Sentimen eksternal tersebut memicu aksi jual investor, terutama pada saham-saham berbasis ekspor dan komoditas yang rentan terdampak potensi perlambatan perdagangan global.

Secara analitis, isu tarif menciptakan ketidakpastian terhadap arus perdagangan dan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Ketika risiko proteksionisme meningkat, pelaku pasar cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang lebih aman (risk-off), sehingga menekan indeks saham di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski demikian, pelemahan IHSG juga mencerminkan sensitivitas pasar domestik terhadap dinamika global.

Stabilitas fundamental ekonomi dalam negeri serta respons kebijakan yang adaptif akan menjadi faktor penentu apakah tekanan ini bersifat sementara atau berlanjut dalam jangka menengah.

IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (26/2) sore, ditutup melemah 86,97 poin atau 1,05 persen ke posisi 8.235,26 seiring dengan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 5,18 poin atau 0,61 persen ke posisi 837,89.

“Kekhawatiran akibat tarif memicu koreksi IHSG pada perdagangan Kamis,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta.

Ratna menjelaskan, sentimen negatif berasal dari berita bahwa Departemen Perdagangan AS akan memberlakukan tarif atas sel dan panel surya yang diimpor dari perusahaan-perusahaan di India, Indonesia dan Laos, karena industri panel surya di tiga negara tersebut dilindungi oleh subsidi.

AS menetapkan tarif sebesar 125,87 persen untuk produk sel dan panel surya dari India, sebesar 104,38 persen untuk impor dari Indonesia, dan sebesar 80.67 persen untuk impor dari Laos.

Selain tarif umum, AS juga menghitung tarif individu bagi perusahaan. Di Indonesia, PT Blue Sky Solar dikenakan tarif 143,3 persen dan PT REC Solar Energy dikenakan tarif 85,99 persen.

Sementara itu, Perwakilan Perdagangan AS (USTR) berencana membuka penyelidikan Pasal 301 terhadap praktik perdagangan Indonesia untuk memeriksa kapasitas industri dan subsidi perikanan.

Hasil temuan penyelidikan, nantinya akan dibandingkan dengan langkah-langkah yang diambil Indonesia dalam memenuhi komitmennya terhadap kekhawatiran AS.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Olahraga
Asian Games: Tim Voli Putra...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.