Rupiah Kembali Loyo, Efek Kebijakan Ketat AS Belum Usai
📅 Selasa, 24 Feb 2026, 17:28 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Muhammad Adimaja
JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah seiring meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan bertahan di level tinggi lebih lama (higher for longer).
Sentimen ini mendorong penguatan dolar AS secara global dan memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Secara analitis, prospek suku bunga AS yang tetap ketat memperlebar selisih imbal hasil (yield differential), sehingga aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.
Kondisi tersebut menekan mata uang emerging markets dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan domestik, terutama jika diiringi dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan indeks dolar.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa (24/2), bergerak melemah 27 poin atau 0,16 persen menjadi Rp16.829 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.802 per dolar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan pelemahan rupiah dipicu ekspektasi suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.
Mengutip Xinhua, CME FedWatch Tool melaporkan probabilitas Federal Reserve mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Maret 2026 meningkat jadi 94 persen dari sekitar 80 persen.
“Pelemahan rupiah sebesar 27 poin dari posisi sebelumnya di Rp16.802 mencerminkan tekanan eksternal yang masih dominan di pasar keuangan. Penguatan dolar AS terjadi seiring ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan tinggi lebih lama,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, data ekonomi AS yang relatif solid dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tetap atraktif turut mempengaruhi pelemahan kurs rupiah.
Tercatat, indeks dari Dallas Fed Manufacturing AS mencapai angka 0,2 dari sebelumnya -1,2. Selain itu juga data Chicago National yang mencapai 0,18 poin, lebih tinggi dibandingkan sebelumnya yang hanya -0,21.
“Kondisi tersebut mendorong pergeseran arus modal global menuju aset berbasis dolar serta meningkatkan sikap risk aversion terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah,” ungkap Taufan.
Melihat sentimen domestik, lanjutnya, pasar mencermati konsistensi kebijakan moneter dan langkah stabilisasi nilai tukar oleh otoritas. Kendati fundamental makroekonomi Indonesia seperti pertumbuhan dan inflasi masih terjaga, lanjutnya, dinamika arus modal asing di pasar obligasi dan saham tetap menjadi faktor penentu volatilitas rupiah.
Permintaan valuta asing untuk kebutuhan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri juga memberi tekanan jangka pendek.
“Secara keseluruhan, kombinasi sentimen global yang kuat dan faktor domestik yang bersifat teknikal membuat pergerakan rupiah cenderung fluktuatif dalam waktu dekat,” ujar dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!