Negosiasi Nuklir Iran-AS di Jenewa: Masih Ada Peluang Kesepakatan?
📅 Senin, 23 Feb 2026, 19:25 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: Reuters
JAKARTA - Para pejabat Iran menyatakan masih membuka peluang tercapainya kesepakatan guna mencegah konflik baru dengan Amerika Serikat. Harapan itu disampaikan menjelang lanjutan pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung Kamis di Jenewa, di tengah peningkatan signifikan kekuatan militer AS di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan rincian kesepakatan tengah disusun menjelang pembahasan ulang terkait program nuklir Teheran. Pernyataan itu muncul setelah utusan Washington, Steve Witkoff, mempertanyakan secara terbuka mengapa Iran belum menyerah pada tekanan Amerika.
"Jika AS menyerang kami, maka kami memiliki hak penuh untuk membela diri," ujar Araghchi dalam wawancara dengan CBS News. Namun ia menegaskan, ada peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyebut putaran pembicaraan sebelumnya menghasilkan sinyal yang menggembirakan. Iran bahkan tengah menyiapkan draf proposal yang diklaim dapat mencegah aksi militer dan mempercepat tercapainya kesepakatan.
Pembicaraan tersebut dimediasi oleh Oman, dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyatakan pertemuan di Jenewa akan dilanjutkan dengan dorongan positif menuju penyelesaian kesepakatan. Laporan Axios menyebutkan Washington siap menggelar negosiasi terperinci akhir pekan ini jika Iran mengajukan proposal dalam waktu 48 jam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, AS meningkatkan tekanan militer dengan mengirim dua kapal induk, jet tempur, dan memperkuat sistem pertahanan udara di kawasan. Presiden AS Donald Trump melalui wawancara di Fox News mempertanyakan sikap Iran yang belum menyatakan penghentian ambisi senjata nuklirnya.
Pemerintah Barat selama ini khawatir program nuklir Iran bertujuan mengembangkan bom atom, tuduhan yang konsisten dibantah Teheran. Iran menegaskan pengayaan uranium dilakukan untuk tujuan sipil dan merupakan hak kedaulatan negara.
Ketegangan meningkat sejak gelombang protes nasional di Iran memicu penindakan keras yang menurut kelompok hak asasi manusia menewaskan ribuan orang. Upaya diplomasi sebelumnya juga terganggu oleh kampanye militer Israel yang memicu konflik selama 12 hari pada Juni lalu, termasuk serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di dalam negeri, kekhawatiran warga terhadap potensi perang semakin meningkat. Beberapa negara seperti Swedia, Serbia, Polandia, dan Australia bahkan telah mendesak warganya untuk meninggalkan Iran sebagai langkah antisipatif.
Protes pro- dan anti-pemerintah kembali terjadi di sejumlah universitas Teheran, dengan sebagian demonstran mengibarkan simbol monarki pra-revolusi 1979. Di tengah dinamika tersebut, sejumlah kelompok Kurdi-Iran di Irak mengumumkan pembentukan koalisi politik dengan tujuan menggulingkan republik Islam Iran.
Di tengah tekanan ekonomi akibat sanksi yang melumpuhkan, Teheran menyatakan kesepakatan cepat akan menjadi kepentingan nasional jika dapat membuka jalan pelonggaran pembatasan ekonomi. Pembicaraan di Jenewa pekan ini dipandang sebagai momentum krusial untuk menentukan arah hubungan Iran dan Amerika Serikat ke depan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!