Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bank Himbara Harus Fokus Biayai Sektor Riil, Terutama Ekonomi Kerakyatan

📅 Kamis, 19 Feb 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Bank Himbara Harus Fokus Biayai Sektor Riil, Terutama Ekonomi Kerakyatan Doc: ANTARA/Yudi Manar
Ket. Plafon KUR Pertanian 2026 capai Rp300 Triliun - Petani memikul padi hasil panen di Kelurahan Martubung, Medan, Sumatera Utara, Rabu (18/2). Pemerintah menyiapkan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian sebesar 300 triliun rupiah pada 2026 guna memperkuat pembiayaan, produksi, dan ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

JAKARTA - Kinerja perbankan nasional terutama Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) dalam menyalurkan kredit pada 2025 dinilai belum memenuhi harapan Pemerintah. Padahal mereka sudah mendapat kucuran likuiditas dari Pemerintah melalui Menteri Keuangan senilai 200 triliun rupiah. 

Sebagai bank yang mengemban misi Agent of Development, bank-bank Himbara diharapkan mengevaluasi kinerja 2025 dan lebih mengarahkan pembiayaan mereka ke sektor-sektor yang selama ini kurang mendapat akses, terutama segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), sektor pertanian dan perkebunan serta Perikanan dan kelautan.

Penyaluran kredit ke pelaku UMKM, petani dan nelayan dipandang penting karena mereka lah yang selama ini menopang perekonomian, terutama terkait dengan penyediaan pangan.

Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, menilai capaian penyaluran kredit perbankan sepanjang 2025 tidak menunjukkan perbaikan dibanding tahun sebelumnya. Ia mencermati adanya gejala perlambatan di tengah kondisi likuiditas yang justru lebih longgar.

Data menunjukkan, pertumbuhan rata-rata kredit perbankan sepanjang 2024 mencapai 11,65 persen. Namun selama 2025, pertumbuhannya hanya sekitar 8,6 persen. “Ini menarik, karena di tahun 2025 kebijakan moneter justru cenderung dilonggarkan dengan alasan mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain itu ada tambahan dana dari SAL yang membuat ruang penyaluran kredit seharusnya lebih besar,” kata Aloysius.

Fakta bahwa pertumbuhan kredit justru lebih lamban di tengah likuiditas yang longgar jelas Aloysius mengindikasikan adanya situasi yang bisa disebut sebagai liquidity trap. Dana tersedia, tetapi tidak sepenuhnya tersalurkan secara produktif. Karena dana SAL disalurkan ke bank-bank Himbara yang memiliki kontribusi besar terhadap total kredit perbankan nasional, maka pertanyaan pun mengarah pada kinerja pertumbuhan kredit bank-bank tersebut.

“Kuat dugaan bahwa banyak kredit dari dana SAL tidak sampai ke kelompok UMKM. Artinya, apa yang diharapkan ternyata tidak terjadi,” katanya.

Harapan bahwa tambahan likuiditas akan menggerakkan sektor bawah belum sepenuhnya terwujud.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa persoalan itu tidak semata-mata terletak pada sisi perbankan. Daya beli kelas menengah ke bawah juga menjadi faktor krusial. Jika daya beli belum benar-benar pulih, sektor UMKM akan sulit bergerak karena kelompok ini merupakan pasar utama mereka.

“Kalau keyakinan konsumen tidak cukup membaik, pelonggaran suku bunga tidak akan banyak membantu,” terang Aloysius.

Implikasi lainnya, risiko kredit macet di sektor ini berpotensi meningkat. Tingkat NPL kredit UMKM di akhir 2025 tercatat lebih tinggi dibanding dua tahun sebelumnya. Dalam kondisi demikian, penyaluran kredit ke sektor bawah dibayangi risiko yang relatif tinggi, sehingga bank Himbara, cenderung lebih berhati-hati.

“Kalau daya beli masyarakat belum pulih, dorongan kredit ke kelompok bawah tetap akan menghadapi hambatan,” tegasnya.

Sebab itu, keinginan untuk mendorong kredit lebih besar ke sektor UMKM dan ekonomi rakyat harus disertai kebijakan lain yang mampu memulihkan daya beli masyarakat.

“Tanpa perbaikan fundamental di sisi permintaan, tambahan likuiditas tidak otomatis menjadi pertumbuhan yang berkualitas,” pungkasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.