Geram dengan Perilaku Buruk Turis, Pemerintah Kota di Jepang Batalkan Festival Bunga Sakura
📅 Jumat, 06 Feb 2026, 10:23 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: BBC
TOKYO - Pemerintah kota di Jepang di dekat Gunung Fuji membatalkan festival bunga sakura tahun ini, dengan alasan lonjakan jumlah turis tidak terkendali bagi penduduk setempat.
BBC melaporkan, masuknya turis asing ke kota Fujiyoshida telah menyebabkan kemacetan lalu lintas kronis dan sampah berserakan. Sujumlah penduduk lokal mengeluh turis-turis masuk tanpa izin atau buang air besar di kebun pribadi.
Fujiyoshida merupakan tujuan populer selama musim semi karena pohon sakura Jepang yang terkenal di dunia sedang mekar penuh, dan dapat dikagumi dengan latar belakang Gunung Fuji.
Namun pemandangan indah Fujiyoshida mengancam "kehidupan warga yang tenang," kata Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi. "Kami memiliki rasa krisis yang kuat."
"Untuk melindungi martabat dan lingkungan hidup warga kami, kami telah memutuskan untuk mengakhiri festival yang telah berlangsung selama 10 tahun ini," kata Horiuchi, saat membuat pengumuman pada hari Selasa (3/2).
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada April 2016, pihak berwenang mengumumkan akan membuka gerbang Taman Arakurayama Sengen untuk menyambut wisatawan selama musim sakura (bunga sakura).
Taman ini menawarkan pemandangan panorama kota dari pagodanya, beberapa tempat layak difoto dan "Instagramable".
Pemerintah Fujiyoshida mulai menyelenggarakan acara tahunan di Taman Arakurayama Sengen dengan harapan untuk meningkatkan daya tarik daerah tersebut dan meningkatkan jumlah pengunjung dengan menciptakan "suasana yang meriah di daerah tersebut".
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, pihak berwenang mengatakan jumlah pengunjung dalam beberapa tahun terakhir telah "meningkat secara dramatis, melebihi kapasitas kota dan mengakibatkan pariwisata berlebihan, yang berdampak serius pada lingkungan hidup penduduk setempat".
Sekarang, sebanyak 10.000 pengunjung membanjiri kota setiap hari selama puncak musim mekarnya bunga sakura, tambah pihak berwenang Fujiyoshida dalam sebuah pernyataan.
Peningkatan ini "disebabkan oleh faktor-faktor seperti yen yang lemah dan popularitas yang meledak-ledak yang dipicu oleh media sosial".
Pihak berwenang kota melaporkan, para wisatawan "membuka pintu rumah pribadi penduduk tanpa izin untuk menggunakan toilet," memasuki properti orang lain tanpa izin, membuang sampah sembarangan, dan "buang air besar di halaman pribadi serta membuat keributan ketika warga setempat menegur mereka".
Meskipun festival tersebut tidak akan berlangsung, kota ini bersiap untuk peningkatan jumlah pengunjung selama bulan April dan Mei.
Ini bukan pertama kalinya pihak berwenang Jepang mengambil tindakan untuk mengatasi wisatawan yang gemar berfoto.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!