Budaya 'Nebeng Haji', Apaan Sih? Fenomena Petugas 'Hilang' saat di Makkah Atau Madinah
📅 Senin, 02 Feb 2026, 19:20 WIB | Oleh: OpikAlasannya beragam, namun semuanya bermuara pada integritas dan kesiapan fisik. Ada kasus indisipliner berat, seperti pemalsuan absensi di mana peserta tidak hadir dari hari pertama hingga kesepuluh namun datanya dimanipulasi seolah hadir. Ada pula peserta yang menuntut perlakuan istimewa dan enggan mengikuti aturan asrama yang menyamaratakan semua peserta tanpa memandang pangkat sosial di dunia luar.
Sektor kesehatan juga menjadi saringan ketat. Beberapa peserta dipulangkan karena memalsukan data Medical Check-Up (MCU). Saat pemeriksaan ulang, ditemukan bahwa mereka mengidap penyakit kronis yang berisiko tinggi dan menular, seperti Tuberkulosis (TBC). Keputusan tegas itu diambil sepenuhnya oleh tim pelatih dari TNI dan Polri yang diberi wewenang penuh oleh Kemenhaj untuk menilai kelayakan peserta tanpa intervensi.
Ketegasan tersebut adalah sinyal bahwa negara tidak main-main. Mereka yang terpilih dan berdiri di lapangan becek itu adalah orang-orang yang benar-benar siap secara fisik, mental, dan integritas. Tidak ada ruang bagi mereka yang manja atau manipulatif.

Sebaiknya Anda baca juga:
Peseta diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 berbaris saat mengikuti upacara apel penutupan pembekalan peseta diklat di Lapangan Galaxy, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (30/1). Sebanyak 1.600 PPIH Arab Saudi 2026 telah menjalani diklat selama 20 hari agar menguasai berbagai bidang layanan krusial seperti layanan transportasi, akomodasi, konsumsi, perlindungan jemaah, disabilitas dan lansia, media center, kesehatan, serta bimbingan ibadah. Antara/Galih Pradipta
Wajah negara
Dalam amanat pengukuhannya, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf memberikan perspektif yang lebih luas mengenai peran petugas haji. Menhaj mengingatkan bahwa penyelenggaraan haji adalah amanah besar yang menyangkut kehormatan bangsa dan wibawa Indonesia di mata dunia internasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Setiap tahun, Indonesia mengirimkan jemaah haji dalam jumlah terbesar di dunia. Fakta ini menuntut kesiapan kita yang sungguh-sungguh," ujar Menhaj.
Petugas haji disebutnya sebagai "wajah negara". Baik buruknya pelayanan yang dirasakan oleh jamaah, serta bagaimana dunia melihat ketertiban jamaah Indonesia, sangat bergantung pada performa para petugasnya.
Di tengah kepadatan jutaan manusia di Tanah Suci, perbedaan latar belakang budaya, serta tekanan fisik dan emosional yang ekstrem, petugas dituntut untuk tetap tenang, sigap, dan bertanggung jawab.
Pekerjaan ini menuntut lebih dari sekadar kemampuan teknis, ia memerlukan integritas moral. Setiap bantuan yang diberikan, setiap masalah yang diselesaikan, dan setiap kesabaran yang petugas tunjukkan adalah bagian dari tanggung jawab moral dan tanggung jawab keagamaan.
Hal itu sangat relevan mengingat tantangan di Arab Saudi yang tidak ringan. Petugas harus siap menghadapi jamaah lansia, jamaah yang tersesat, hingga situasi darurat kesehatan. Tanpa disiplin dan empati yang kuat, mustahil tugas tersebut dapat diselesaikan dengan baik.
Secara khusus, apresiasi dan beban tanggung jawab juga diletakkan di pundak tim Media Center Haji (MCH). Dalam kerumunan petugas yang dikukuhkan, MCH memegang peran vital sebagai jembatan informasi. MCH, bersama seluruh petugas lainnya, mengemban tiga amanah: Amanah dari Allah SWT, amanah dari jamaah haji, dan amanah dari negara.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!