Kuliner Tradisional Malalak: Kopi Tungkuik Favorit Wisatawan
📅 Jumat, 30 Jan 2026, 16:44 WIB | Oleh: Yebdi TrismarNamun, setelah bencana banjir bandang terjadi, omzet usaha kopi tungkuik miliknya turun. Meskipun demikian, ia menyakini usaha tersebut akan kembali bangkit seiring perbaikan jalan dan jembatan yang terus dikebut oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
"Bencana yang terjadi tidak boleh mematahkan semangat untuk berdagang," kata dia.
Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia menyakini banyak orang yang juga mengharapkan agar warung-warung tetap dibuka sehingga kebutuhan dapat terpenuhi di lokasi terdampak bencana.
Apalagi, di tengah kondisi pemulihan bencana orang-orang yang setiap harinya bekerja membangun jembatan darurat dan memperbaiki jalan yang terputus sangat bergantung pada pedagang lokal yang tetap setia membuka warungnya meskipun rasa cemas dan trauma masih menyelimuti.
Sebaiknya Anda baca juga:
Warung itu juga menjadi tujuan para pekerja yang sedang membangun jembatan di sekitar daerah itu.
Kementerian Pekerjaan Umum sedang menyiapkan desain pembangunan jembatan permanen di jalur Malalak menuju Kota Bukittinggi, Sumatera Barat dan sekitarnya sembari menuntaskan pengerjaan jembatan sementara guna memperlancar mobilitas dan arus logistik.
Rancangan desain sangat penting sebelum dibangunnya jembatan permanen. Selain lokasinya yang curam dan terjal karena dikelilingi perbukitan dan jurang, beberapa titik jalur Malalak-Bukittinggi juga melintasi kawasan hutan lindung dan konservasi sehingga membutuhkan izin dari kementerian terkait.
Tidak hanya itu, Kementerian Pekerjaan Umum juga mengkaji apakah nantinya pembangunan sabo dam juga bisa merangkap sebagai jembatan atau tidak, tergantung dari kondisi serta efisiensi di lapangan. Infrastruktur ini sekaligus mitigasi yang disiapkan untuk mencegah jika terjadi banjir bandang.
Sementara itu, Farhan salah seorang mahasiswa Universitas Padjadjaran asal Kota Bukittinggi mengaku sudah menjadi pelanggan Kopi Tungkuik sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).
Setiap libur semester ia sengaja menyempatkan diri untuk menyeruput Kopi Tungkuik buatan Syafniwar. Cita rasa yang khas dan cara minumnya yang unik menjadi alasan Farhan jauh-jauh dari Kota Bukittinggi hanya untuk mendapatkan segelas minuman khas Malalak tersebut.
"Rasa kopinya itu khas sekali karena ada campuran beras ketan hitam. Selain itu, cara minumnya pun juga unik karena harus ditiup menggunakan sedotan," ujarnya.
Mahasiswa semester IV yang juga pecinta kopi ini menyebut jika diberikan penilaian 1 hingga 10, maka kopi tungkuik Malalak layak mendapatkan poin 9 karena cita rasa dan keunikannya yang sangat berbeda dengan kopi pada umumnya.
Bahkan, ia tidak sungkan untuk mengenalkan kopi khas Malalak itu kepada para mahasiswa dan teman kosnya di Bandung.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!