Kuliner Tradisional Malalak: Kopi Tungkuik Favorit Wisatawan
📅 Jumat, 30 Jan 2026, 16:44 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Antara Foto
Kecamatan Malalak dan Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, termasuk daerah yang paling parah terkena sapuan banjir bandang pada akhir November 2025.
Di Kecamatan Malalak, salah satu titik terparah yang disapu galodo, begitu masyakarat daerah itu menyebutnya, tidak hanya menimbulkan korban jiwa tetapi juga menyebabkan warga harus kehilangan tempat tinggalnya.
Semua aktivitas perekonomian terhenti. Bahkan hingga kini masih banyak yang tidak berani untuk memulai usahanya. Tapi tidak dengan Syafniwar dan suaminya. Ibu dua anak ini memberanikan diri untuk tetap membuka usaha kulinernya meskipun bahaya terus menghantui.
Warung Syafniwar berada di Jalan Lintas Malalak-Bukittinggi atau di antara kilometer 74 sampai dengan kilometer 80. Sewaktu bencana terjadi, rumah sekaligus warung miliknya tertimbun material longsor. Ia sempat mengungsi karena jika tetap bertahan maka nyawa taruhannya.
Selama beberapa pekan ia bersama warga setempat terisolasi. Jalan dari arah Kabupaten Padang Pariaman maupun ke Kota Bukittinggi putus total. Aktivitas perekonomian lumpuh, warga hanya bergantung pada bantuan dari luar untuk sekadar mengisi lambung.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seiring pemulihan jalan yang dikebut pemerintah, perlahan namun pasti akses jalan yang sebelumnya terputus khususnya di kilometer 74 kini sudah bisa dilintasi menggunakan jembatan bailey yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum.
Aktivitas perekonomian dan mobilitas warga mulai bergerak. Syafniwar menangkap hal ini merupakan awal dan momentum bangkit untuk memulai usahanya setelah sekian lama tutup akibat terdampak bencana.
Selain menyediakan masakan Padang, ia memiliki satu kuliner khas Nagari Malalak yang kerap menjadi buruan para wisatawan yakni kopi tungkuik. Minuman berbahan utama kopi ini hanya dapat ditemukan di Kecamatan Malalak dan satu gerai di pusat kuliner Upiak Banun, Kabupaten Padang Pariaman, yang dipasok dari usaha Syafniwar.
Jika pada umumnya kopi diminum dengan gelas menghadap ke atas, Kopi tungkuik tidak demikian. Minuman berbahan kopi robusta ini diminum dengan gelas terbalik. Cara minumnya pun tergolong unik yakni sisi lingkaran gelas harus ditiup menggunakan sedotan agar kopi keluar dari celah atau bibir gelas.
Ide kopi tungkuik berangkat dari pemikirannya yang out of the box. Syafniwar mempercayai sesuatu yang disajikan berbeda mampu menarik perhatian konsumen, begitu juga dengan kopi tungkuik.
Usaha kopi tungkuik ini telah ia lakukan sejak 2017 dan hingga kini terus eksis serta menjadi buruan para pecinta kopi. Sebelum bencana terjadi, cukup banyak ditemukan pedagang kaki lima yang juga menjual kopi tatungkuik di sekitaran Jalan Lintas Malalak. Namun, Syafniwar mengklaim ia merupakan orang pertama yang mengenalkan kopi tungkuik yang kemudian diikuti oleh pedagang lainnya.
"Untuk bahan baku tidak ada pedagang sama dengan kopi yang saya buat," ujarnya.
Sebelum bencana terjadi, Syafniwar bisa menghabiskan hingga 500 kilogram kopi per bulan. Satu kilogram kopi tersebut akan menghasilkan 65 gelas kopi. Satu gelas kopi dijual dengan harga Rp12 ribu hingga Rp13 ribu atau bergantung pada varian rasa yang dipesan oleh konsumen.
Selain masyarakat Sumatera Barat dan wisatawan dari berbagai provinsi tetangga, warung kopi tungkuik milik Syafniwar juga telah dikunjungi oleh publik figur seperti Ucok Baba.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!