Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

OJK Jabar Dorong Ekosistem Pembiayaan Kakao Kepada Petani Lokal

📅 Kamis, 22 Jan 2026, 15:44 WIB | Oleh:
OJK Jabar Dorong Ekosistem Pembiayaan Kakao Kepada Petani Lokal Doc: ANTARA/Ilham Nugraha
Ket. Kepala Otoritas Jasa Keuangan Jawa Barat Darwisman saat di Bandung pada Kamis (22/1).

BANDUNG -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat mendorong pembangunan ekosistem pembiayaan terintegrasi bagi budidaya kakao di delapan kabupaten/kota melalui kerja sama dengan perbankan nasional dan pemerintah daerah untuk memastikan hasil panen petani terserap pasar dengan harga wajar.

Kepala OJK Jawa Barat Darwisman di Bandung, Kamis, menjelaskan bahwa pembangunan ekosistem ini mencakup edukasi dan literasi keuangan bagi petani, pelatihan teknis, pendampingan budidaya, serta pemantauan berkelanjutan.

"Upaya ke depan kami bersama, Bank Indonesia membangun ekosistem pembiayaan untuk produk pertanian, khususnya budidaya kakao dan kelapa. Dukungan dilakukan melalui pembangunan ekosistem yang terintegrasi," jelasnya.

Ia menjelaskan program ini menyiapkan skema pembiayaan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), agar petani dapat mengakses modal secara lebih mudah dan terstruktur.

Ia menambahkan bahwa pihaknya segera melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) untuk merumuskan skema pembiayaan yang tepat bagi budidaya kakao dengan melihat potensi wilayah.

"Skema pembiayaan seperti KUR untuk UMKM akan dirumuskan. Dalam waktu dekat, kami menggelar FGD di Kantor OJK untuk mendorong ekosistem budidaya kakao ini," tambahnya.

OJK juga mencatat realisasi KUR di Jawa Barat saat ini mencapai sekitar Rp23 triliun–Rp25 triliun.

Bila kebutuhan petani dan UMKM meningkat hingga Rp50 triliun, pemerintah provinsi dapat mengajukan penambahan alokasi KUR melalui Kemenko Perekonomian.

Saat ini, potensi lahan kakao delapan wilayah di Jawa Barat tercatat sekitar 5.000 hektare dengan satu hektare lahan dapat ditanami sekitar 800 hingga 1.000 batang pada jarak tanam 3x3 atau 3x2,5 meter.

Delapan wilayah tersebut meliputi Sumedang, Ciamis, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Subang, Cianjur, Tasikmalaya dan Pangandaran dengan total sekitar 180 kelompok tani kakao.

Penanaman tahap awal sendiri mencakup lahan puluhan hektare yang tersebar di beberapa wilayah, dengan target pengembangan hingga tahun 2026 mencapai 700 hektare dan target jangka panjang sekitar 2.000 hektare.

Hasil kakao sementara diarahkan untuk industri UMKM di Kabupaten Bandung dengan produksi diperkirakan dapat mencapai ratusan ton, dengan rata-rata satu kilogram per pohon, dan kepadatan tanaman 800–1.000 pohon per hektare.

Jenis kakao yang dikembangkan juga diarahkan untuk konservasi, menggunakan bibit endemik Kabupaten Bandung dengan pohon unggulan, sekaligus mengatasi kondisi lahan kritis agar pepohonan dapat dipanen tanpa ditebang.

Selain kakao, pengembangan komoditas lain juga sedang dilakukan seperti program susu sapi perah, pisang varietas Cavendish, domba, dan kentang di Garut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.