Cerita Ekonomi Badui yang Tumbuh dari Tanah dan Benang
📅 Sabtu, 17 Jan 2026, 09:50 WIB | Oleh: Tim PenulisMenurut dia, masyarakat Badui mengembangkan pertanian ladang, selain di kawasan tanah hak ulayat adat.
Selain itu juga ada di luar tanah hak ulayat adat, seperti di Cileles, Gunungkencana, Sobang, Muncang, Bojongmanik dan Cirinten.
Pengembangan pertanian bercocok tanam dilakukan setiap setahun sekali sesuai kalender adat.
Begitu juga aneka kerajinan, seperti kain tenun, lomar atau ikat kepala, baju kampret, selendang dengan harga bervariasi mulai Rp20 ribu hingga Rp750 ribu.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kami merasa bersyukur dari bercocok tanam dan kerajinan itu kehidupan ekonomi masyarakat relatif baik," katanya menjelaskan.
Sementara itu, Atim, seorang Badui Luar mengatakan pihaknya sudah lima tahun terakhir ini relatif lumayan pendapatan ekonomi dari penjualan produk kerajinan adat.
Bahkan, dua bulan terakhir ini omzet pendapatan hingga mencapai Rp14 juta.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kami menjual produk kerajinan itu sebagian hasil kerajinan isteri dan sebagian lainnya mengambil dari perajin," kata Atim.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!