Iran Berencana Mengeksekusi 800 Warganya di Teheran
📅 Jumat, 16 Jan 2026, 14:58 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Berkaitan dengan eskalasi unjuk rasa di dalam negeri. Rezim Iran dikabarkan berencana mengeksekusi sedikitnya 8000 warganya. Namun, Gedung Putih mengatakan bahwa otoritas Iran telah menghentikan rencana eksekusi yang dijadwalkan di tengah aksi protes selama beberapa pekan terakhir. Washington memantau situasi dengan saksama.
“Presiden mengetahui hari ini bahwa 800 eksekusi yang telah dijadwalkan dan seharusnya dilaksanakan kemarin, telah dihentikan,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan pada Kamis (15/1).
Leavitt mengatakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump terus menilai perkembangan terkait Iran dan mengisyaratkan bahwa langkah lanjutan masih mungkin akan dilakukan. “Presiden dan timnya memantau situasi ini dengan sangat dekat dan semua opsi tetap terbuka bagi presiden,” ujar Leavitt.
Trump telah berulang kali berjanji untuk mendukung para pengunjuk rasa di Iran, di mana penindakan oleh otoritas Iran dilaporkan telah menyebabkan ribuan korban. Pada pekan ini, ia mengatakan Washington akan mengambil “tindakan yang sangat keras” jika Iran melaksanakan eksekusi terhadap para demonstran.
Sementara itu, pejabat Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel mendukung “kerusuhan” dan “terorisme” dalam aksi protes tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Otoritas Iran belum merilis angka resmi terkait korban tewas atau jumlah tahanan. Namun, kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), memperkirakan lebih dari 2.600 orang telah tewas, termasuk pengunjuk rasa dan personel keamanan.
Terus Melawan
Sementara itu, Iran tidak akan diam menghadapi retorika ancaman Amerika Serikat, kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani dalam percakapan telepon dengan Kepala Divisi Keamanan Internasional Kementerian Luar Negeri Swiss, Gabriel Luechinger.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Meskipun Iran memandang pendekatan positif Swiss sebagai hal yang perlu, Iran tidak akan tinggal diam menghadapi retorika ancaman AS,” demikian pernyataan Larijani seperti dikutip kantor berita Tasnim, Kamis (15/1).
Dalam laporan tersebut, Larijani juga memuji peran positif Swiss dalam meredakan ketegangan dan membantu penyelesaian krisis-krisis sebelumnya.
Aksi protes meletus di Iran pada akhir Desember 2025 di tengah kekhawatiran atas melonjaknya inflasi akibat melemahnya mata uang lokal, rial Iran.
Sejak 8 Januari, setelah adanya seruan dari Reza Pahlavi, yang merupakan putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979, aksi unjuk rasa di berbagai wilayah Iran semakin intensif. Pada hari yang sama, akses internet di negara itu diblokir.
Di beberapa kota, demonstrasi berubah menjadi bentrokan dengan aparat kepolisian ketika para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik pemerintah. Terdapat laporan mengenai korban di kalangan pasukan keamanan maupun demonstran.
Sementara itu, pada akhir Desember, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan mendukung serangan baru terhadap Iran jika Teheran berupaya melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklirnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!