Kota Mataram Tekan 60 Persen Sampah Organik Lewat Tempah Dedoro, Tangsel Bisa Menirunya
📅 Kamis, 08 Jan 2026, 19:05 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: antara foto
MATARAM - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengatakan optimistis mampu menekan volume sampah organik hingga 60 persen melalui sistem pengolahan sampah organik menggunakan "tempah dedoro" atau tempat sampah, khusus sampah organik sebagai upaya penanganan sampah secara mandiri.
Program ini bisa dijadikan pilot project sekaligus bisa diadopsi oleh daerah lain, seperti Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang kini tengah menghadapi persoalan sampah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram H Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Kamis (8/1), mengatakan, program "tempah dedoro" kini sudah berjalan dua bulan di Lingkungan Marong Karang Tatah, Mataram, dan sudah berhasil mengurangi volume sampah organik di lingkungan tersebut.
"Dari sehari biasanya produksi sampah di lingkungan tersebut mencapai 180 kilogram, kini hanya 80 kilogram," katanya di sela meninjau pemanfaatan "tempah dedoro" di sejumlah rumah warga diLingkungan Marong Karang Tatah, Mataram.
Menurutnya, apabila program tersebut dapat dilaksanakan secara masif pada 325 lingkungan se-Kota Mataram, maka volume sampah yang akan ditangani petugas DLH hanya sekitar 40 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Artinya, dari volume sampah di Kota Mataram sekitar 250 ton per hari, sekitar 60 persen merupakan sampah organik atau sekitar 150 ton dapat diolah melalui inovasi "tempah dedoro".
Sementara 40 persennya atau sekitar 100 ton sampah organik berupa plastik dan lainnya, akan dialihkan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya, untuk diolah menjadi batako.
"Sisanya merupakan residu yang sudah tidak bisa diolah, akan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Melalui sistem "tempah dedoro" masyarakat bisa memanen kompos sekitar 6-8 bulan untuk dimanfaatkan di tanaman pekarangan.
Sistem pengolahan sampah organik dengan "tempah dedoro" dinilai efektif karena dapat mengurai sampah dari 1 ton menjadi kompos sekitar tiga karung, satu karung berisi sekitar 25 kilogram.
"Dari satu ton sampah, kita bisa diurai jadi kompos 75 kilogram, atau hanya 7,5 persen," katanya.
Terkait dengan itu, setelah dilakukan uji coba di Lingkungan Karang Tatah dengan 25 unit "tempah dedoro", pihaknya sedang menyiapkan konsep untuk lingkungan lainnya di 50 kelurahan se-Kota Mataram.
"Target kami tahun ini, satu kelurahan satu lingkungan menjadi lokasi program "tempah dedoro"," katanya.
Denny menargetkan, apabila program "tempah dedoro" bisa dilakukan secara masif tahun 2026, maka 2027 volume sampah di Kota Mataram yang dibuang ke TPA akan turun drastis hingga 60 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!