Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kebangkrutan Pelaku Ekonomi Sirkular Arus Bawah, Negara Harus Hadir

📅 Selasa, 06 Jan 2026, 12:30 WIB | Oleh: Tim Penulis

“Kami udah lama kerja di sampah, mau pindah kerjaan lain, kerja apa? Bingung, selama ini menekuni kerjaan di sampah. Apa pun kondisinya, kami bertahan. Yang penting bisa makan”, ujar Herman.

“Kami orang kecil mau minta pertolongan pada siapa. Apa pemerintah mengurus orang di sampah? Omongan kami tidak didengar. Selama ini tidak ada yang menolong atau membantu kami. Tidak ada organisasi yang menolong. Kami cari modal sendiri,“ tambahnya.

Pemulung dan pengepul dalam meningkatkan tarap hidup harus berjuang sendiri. Bekerja keras siang malam agar memperoleh income cukup, lalu menabung ketika situasi baik. Dus, tidak bisa mengandalkan lembaga atau organisasi yang mengatasnamakan atau memayungi mereka. Ternyata, organisasi itu hanya mencari makan untuk pengurusnya.

Bos Biji Plastik

Sampah plastik yang disortir partai kecil atau siap giling. Herman punya pencacahan plastik. Kemudian, cacahan plastik itu dijual ke bos langganan, yakni pabrik proses biji plastik yang berada di Kelurahan Ciketingudik Bantargebang. Bos biji plastik dikenal dengan nama Ridwan. Warga sekitar dan para pengepul rekanan memanggil bos Iwan. Bos asal Madura ini punya tiga pabrik biji plastik/pallet, letaknya dekat TPST Bantargebang.

Sekitar TPST terdapat 15-16 pabrik biji plastik. Pabrik-pabrik itu mendekatkan lokasi dengan bahan baku, pembangunannya mulai marak pada 2015/2016-an. Pabrik proses biji plastik ada yang fokus hanya plastik kresek dan daun, plastik BS dan himpek, PET, PP gelas, dan plastik ember, mainan, PK, Naso, tali klem plastik. Para bos biji plastik tersebut mengirim produknya ke Purwakarta, Bandung, Jakarta, Tangerang, Solo, Semarang, Surabaya, dll.

Pada umumnya, dalam paket besar dengan DO tertentu, perusahaan produsen biji plastik ketika mengirim barang tidak langsung dibayar, ada tempo sebulan, dua bulan, tiga bulan. Ada yang sampai enam bulan. Hal ini sering dialami bos Iwan. Kecuali, permintaan jumlah kecil, misal 4-5 kw atau 1-2 ton biasanya dibayar kontan. Uang masukan ini dapat digunakan untuk menambah biaya operasional.

Investasi bos Iwan lumayan besar, ratusan miliar rupiah. Demikian modal yang diputar untuk tiga pabriknya bisa belasan miliar rupiah, cukup lumayan besar. Untuk upah karyawan saja sekitar Rp 80-100 juta per bulan. Belum uang BBM, bayar listrik, bayar konsultan, bayar keamanan. Karena harga teknologi biji plastik cukup mahal, harga mesin second Rp4-5 miliar. Kalau mesin baru bisa dua, tiga kali lipat. Butuh lahan luas, setidaknya 0,5-1 hektare, infrastruktur gudang, tempat mesin, kantor, kendaraan, forklift, dll.

Usaha proses biji plastik semakin modern dan canggih teknologinya semakin besar anggarannya. Ternyata, mengelola sampah menjadi barang yang berguna butuh uang besar. Jelas, tidak bisa mengolah sampah hanya modal dengkul atau omongan saja. Kosulitan yang dialami mereka membutuhkan kehadiran negara dan pihak lain.

Mereka meminta pada pemerintah dan dunia usaha daur ulang agar memberi jalan terbaik untuk kelangsungan dan perbaikan taraf hidup, sebagai berikut:

(1) Pemerintah harus menstabilkan harga-harga berbagai sampah pungutan dalam negeri.

(2) Pemerintah harus melayani, melindungi keberadaan sektor informal persampahan, dan menfasilitasi teknologi, permodalan, pasar daur ulang, serta informasi secara cepat dan tepat.

(3) Pemerintah dan dunia usaha memfokuskan sampah dalam negeri sebagai bahan baku industri daur ulang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Olahraga
Asian Games: Tim Voli Putra...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.