Kebangkrutan Pelaku Ekonomi Sirkular Arus Bawah, Negara Harus Hadir
📅 Selasa, 06 Jan 2026, 12:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
Oleh Bagong Suyoto
Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas)
Sampah jika dikelola dengan baik dan benar bisa menjadi berkah, kata sebagian orang. Tapi jika dibiarkan, lama kelamaan jadi masalah beranak-pinak. Jika diolah untuk bahan baku daur ulang, tetapi harga-harganya anjlok terus-menerus menimbulkan sakit kepala. Bukan lagi berkah, tetapi petaka kebangkrutan pelaku circular economy aras bawah.
Pengelolaan sampah non-organik, hampir semua jenis sangat diminati banyak orang, terutama plastik, kertas, logam, kaca/beling, karet, kain, kayu hingga tulang. Pokoknya sampahbernilai ekonomis akan diburu orang, terutama pelaku circular economy. Di antaranya pemulung, pengepul, pencacah plastik, bank sampah, TPS3R, dan lainnya.
Sampah non-organik itu menjadi urusan mereka. Bahkan, pihak korporatdaur ulang plastik, kertas, logam, beling pun memperebutkan bahan baku tersebut. Semua sampah yang bisa didaur-ulang jadi rebutan. Korporat daur ulang plastik jenis PET membangun perusahaan dengan investasi sangat besar, Rp250-500 miliar di Tangerang, Serang, Bogor, Cikarang, Solo, Surabaya, Pasuruan, dll.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 2024, komposisi sampah nasional; jenis sampah plastik ± 19-20% (11,6-12 juta ton/tahun), kertas ± 10-11% (10,5-11 juta ton/tahun). Sedang kebutuhan bahan baku plastik ± 1,6 juta ton dan kertas ± 7,2 juta ton. Pasokan bahan baku daur ulang domestik untuk plastik ± 1,2 juta ton dan kertas ± 3,7 juta ton. Gap pasokan untuk plastik ± 443.251 ton (28%) dan kertas ± 3,5 juta ton (49%). Pengumpulan bahan baku daur ulang dalam negeri harus ditingkatkan melalui penguatan peran bank sampah, TPS3R, sektor informal.
Gambaran sektor daur ulang dalam negeri tampak menjanjikan. Maknanya, kita bisa menuntaskan persoalan sampah dalam negeri. Sektor industri daur ulang dapat menyerap ribuan, bahkan jutaan pekerja dan memberikan income, berkontribusi terhadap income negara, dan dampak positip lain.
Tetapi fakta lapangan bicara berbeda sekali. Sampah menjadi ladang rezeki, tumpuan hidup sebagian penduduk republik ini. Mereka disebut pelaku circular economy aras bawah;pemulung, pengepul, pemilah sampah, sopir, kernek dan kuli bongkar muat. Perannya sangat penting dan agar bisa bertahan hidup. Ini bagian resiliensi mereka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Cuma permasalahannya, mereka membuang sisa-sisa sortir sampah di sembarang tempat atau dibakar meskipun dilarang pemerintah. Alasannya, residu atau jenis sampah plastik tertentu tidak laku dijual. Contoh jenis sachet yang kecil-kecil, seperti bungkus makanan anak-anak, sachet berbagai jenis merk kopi, bekas bungkus mie instan, bekas plastik kemasan. Jenis plastik tersebut dikategorikan plastik multi-layer. Jika didaur-ulang perlu teknologi canggih dan biayanya sangat mahal.
Harga Sampah Turun Terus
Ketika akhir dan awal tahun harga sampah campuran (gabrugan) jatuh, dari Rp 1.400 menjadi Rp 700-800/kg. Pemulung dan keluarganya terdampak pusing kepala. Juga bos/pengepul yang selama ini menaunginya, ikut pusing karena harga-harga sampah dari TPST/TPA jatuh dratis hingga 50-60%. Perlahan modal bos habis untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari dan upah pekerja. Terpaksa bos menjual barang miliknya yang berharga, seperti mobil, tanah, perhiasan emas, dan lainnya.
Salah satu bos di dekat TPST Bantargebang, sebut Herman (51) namanya, asal Indramayu Jawa Barat. Ia lebih 15 tahun menjadi pengepul dan pengelola penggilingan plastik. Ketika harga sampah pungutan bagus, ia bisa mempekerjakan 25-30 orang. Upah kerja rata-rata Rp75-100 ribu/hari dansistem borongan Rp700-1.000/kg.
Putaran uangnya kisaran Rp25-30 juta, kadang bisa Rp40 juta per bulan. Ia memiliki truk, pickup dan mobil pribadi. Ia hidup sederhana bersama anaknya buah di gubuk. Ketika masih jaya, Herman hanya mengontrol pekerjaan anak buahnya, yang bongkar muat, menimbang dan memilah sampah. Usaha Herman mengalami kemajuan selama 5-6 tahun.
Namun, roda berputar, sudah dua atau tiga tahun belakangan harga-harga sampah dari TPST/TPA terus turun, sulit diprediksi. Ia sangat bingung. Harga fluktuatif dan cenderung turun terus, tetapi biaya operasional tetap, bahkan naik, misal untuk beli BBM, listrik, upah pekerja.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!