Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pelajaran Grooming dari Sebuah Catatan Broken Strings

📅 Minggu, 18 Jan 2026, 03:14 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pelajaran Grooming dari Sebuah Catatan Broken Strings Doc: ist
Ket. buku memoar

Ada luka yang tidak berisik. Ia tidak selalu meninggalkan lebam di tubuh, tetapi menetap lama di ingatan, membentuk cara seseorang memandang diri dan dunia.

"Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah" bergerak di wilayah luka semacam itu. Memoar karya Aurelie Moeremans ini hadir bukan sebagai kisah sensasional, melainkan catatan sunyi tentang masa muda yang diremukkan oleh relasi kuasa, manipulasi, dan kekerasan yang dibungkus atas nama perhatian.

Meski dirilis pada Oktober 2025, buku ini mulai beredar luas pada awal 2026. Ia menjadi perbincangan karena keberaniannya membuka pengalaman childgrooming sejak usia 15 tahun, ketika relasi usia, kuasa, dan ketergantungan emosional membuat korban kehilangan ruang untuk berkata tidak pada upaya pelecehan seksual.

Aurelie menulis dari sudut pandang korban, tanpa romantisasi, tanpa upaya menghaluskan luka. Pilihan itu membuat memoar ini terasa jujur dan menohok.

Dalam konteks yang lebih luas, Broken Strings relevan dibaca bukan hanya sebagai kisah personal seorang figur publik, tetapi sebagai cermin bagi realitas sosial yang masih rapuh dalam melindungi perempuan dan anak.

Apa yang dialami Aurelie bukan peristiwa terisolasi. Ia beresonansi dengan banyak kasus kekerasan seksual di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat (NTB), wilayah yang dalam beberapa tahun terakhir berulang kali diguncang kasus serupa di ruang yang seharusnya aman.


Relasi kuasa

Salah satu kekuatan Broken Strings terletak pada kemampuannya memetakan pola. Grooming tidak hadir tiba-tiba. Ia dimulai dari perhatian, pujian, dan perlahan berubah menjadi kontrol. Aurelie menggambarkan bagaimana relasi yang tampak protektif justru menggerus identitas korban, memutus hubungan sosial, dan menanamkan rasa bersalah yang membuat korban sulit keluar.

Pola ini terasa akrab ketika menengok kasus-kasus kekerasan seksual di NTB. Dalam beberapa perkara di Lombok Tengah dan Lombok Barat, pelaku adalah figur yang memiliki otoritas moral dan sosial.

Modusnya beragam, mulai dari janji doa, sumpah, hingga dalih pendidikan dan pengasuhan. Korban, sebagian besar santriwati, berada dalam posisi subordinat, bergantung pada pelaku secara psikologis dan struktural.

Di titik ini, memoar Aurelie memberi bahasa untuk memahami kekerasan yang tidak selalu dimulai dengan paksaan fisik. Kekerasan tumbuh dari ketimpangan kuasa, usia, dan status.

Dalam banyak kasus di NTB, relasi kuasa itu diperkuat oleh budaya patriarki, penghormatan berlebihan pada figur otoritas, serta minimnya mekanisme pengawasan. Hasilnya adalah luka berlapis yang sering kali baru terungkap bertahun-tahun kemudian.

Data yang dihimpun pemerintah daerah dan lembaga nasional menunjukkan bahwa angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTB masih tinggi dalam rentang 2020–2024, meski ada tren penurunan pada 2024.

Namun, penurunan angka tidak selalu berarti berkurangnya kejadian. Ia bisa juga menandakan masih kuatnya budaya diam. Dalam konteks ini, Broken Strings bekerja sebagai pengganggu keheningan. Ia mengingatkan bahwa di balik statistik ada pengalaman manusia yang nyata.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.