Mengancam Kebebasan Pers, Sejumlah Media Disensor terkait Pemberitaan Bencana Sumatra
📅 Jumat, 02 Jan 2026, 22:21 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
JAKARTA -- Penghapusan sejumlah konten berita tentang dampak banjir Sumatera dan pernyataan pejabat publik yang menentang laporan "kekurangan" pemerintah telah memicu kekhawatiran tentang kebebasan pers di kalangan kelompok advokasi media Indonesia.
Dikutip dari Nikkei Asia, konten paling menonjol yang dihapus baru-baru ini adalah laporan langsung CNN (Cable News Network) Indonesia pada 17 Desember, yang menunjukkan produser lapangannya menangis tersedu-sedu saat menggambarkan bagaimana anak-anak di sebuah desa di provinsi Aceh tidak bisa mendapatkan makanan apa pun tiga minggu setelah banjir melanda daerah tersebut.
Aceh adalah salah satu dari tiga provinsi di Sumatera Utara yang dilanda banjir dan tanah longsor akibat siklon pada akhir November. Hingga Senin, dilaporkan 1.140 orang tewas dan hampir 400.000 lainnya, sebagian besar di Aceh, masih mengungsi.
Tayangan CNN Indonesia tersebut menjadi viral, menarik simpati publik dan memicu kritik daring terhadap respons pemerintah terhadap bencana tersebut. Namun, rekaman itu kini tidak lagi tersedia di akun media sosial stasiun televisi lokal tersebut.
CNN Indonesia mengatakan pihaknya menghapus rekaman tersebut untuk mencegah potensi penyalahgunaan, menambahkan dalam sebuah pernyataan bahwa "keputusan ini diambil tanpa tekanan dan sepenuhnya merupakan keputusan redaksi." Mereka tidak menanggapi permintaan komentar tambahan dari Nikkei Asia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam konferensi pers pada 19 Desember, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menuduh pihak-pihak yang tidak disebutkan namanya berupaya membentuk opini publik untuk menyiratkan bahwa pemerintah tidak bekerja cukup keras dalam menanggapi bencana tersebut. "Mereka yang memiliki pengaruh dan platform harus menggunakannya dengan bijak," katanya. "Jangan melakukan sebaliknya dan memperumit (situasi)."
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak mengatakan dalam pengarahan yang sama: "Tolong beri tahu kami tentang kekurangan (kami), tetapi jangan mengungkapkannya melalui media."
"Tunjukkan rasa belas kasihan kepada personel kami. Tiga orang sudah meninggal," tambah jenderal itu, merujuk pada tentara yang meninggal selama upaya penyelamatan dan evakuasi. "Kami telah bekerja siang dan malam, namun masih dicap lambat."
Sebaiknya Anda baca juga:
Laporan lain yang dihapus termasuk satu laporan yang diterbitkan oleh portal berita populer Indonesia tentang beberapa orang di Aceh yang mengibarkan bendera putih untuk menyatakan ketidakpuasan atas penanganan pemerintah pascabencana.
Kompas TV mengatakan bahwa peralatan jurnalis mereka disita dan video yang telah mereka buat diambil secara paksa ketika mereka bersiap untuk melakukan laporan langsung di dekat bandara di Aceh.
Komite Keamanan Jurnalis Indonesia menuduh pemerintah membatasi akses informasi, terutama jika informasi tersebut tidak sesuai dengan narasi resmi. "Ini mencerminkan upaya serius untuk mengendalikan arus informasi publik dan menekan fakta," kata komite tersebut dalam pernyataan baru-baru ini.
"Meliput upaya pemerintah bukan berarti menghilangkan ruang untuk kritik," kata Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam pernyataan terpisah.
Ditambahkan pula bahwa pernyataan yang dibuat oleh Wijaya dan Simanjuntak dapat menekan ruang redaksi untuk melakukan lebih banyak sensor diri, yang menimbulkan ancaman serius terhadap kebebasan pers dan memunculkan kekhawatiran akan kembalinya praktik otoriter di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.
Para jurnalis juga menghadapi tekanan dalam peliputan topik-topik lainnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!