Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Deepfake AI Dinilai Berpotensi Picu Perang Nuklir

📅 Rabu, 31 Des 2025, 01:00 WIB | Oleh:
Deepfake AI Dinilai Berpotensi Picu Perang Nuklir Doc: AFP/ Pedro Pardo
Ket. Rudal balistik nuklir generasi pertama JL-1 terlihat saat parade militer Tiongkok di Lapangan Tiananmen Beijing, beberapa waktu lalu

Washington – Pengembangan kecerdasan buatan (AI), khususnya teknologi deepfake, berpotensi mengancam keamanan nuklir global. Hal tersebut dilaporkan majalah Foreign Affairs pada Senin (29/12).

Dikutip dari Antara, Kepala Ekonom Biro Regional Asia-Pasifik Program Pembangunan PBB (UNDP), Philip Schellekens, pada bulan ini memperingatkan bahwa penerapan AI di bidang militer dapat menjadi ancaman terhadap eksistensi manusia dan berpotensi menimbulkan korban jiwa dalam skala besar. Ia menekankan perlunya pengaturan ketat agar teknologi tersebut digunakan secara sangat bertanggung jawab.

“Deepfake yang dihasilkan AI berpotensi mendorong para pemimpin negara pemilik senjata nuklir untuk melancarkan serangan. Skenario yang lebih berbahaya lagi adalah apabila sebuah sistem AI diberi kewenangan untuk menentukan penggunaan senjata nuklir,” ucapnya.

Menurut laporan majalah asal Amerika Serikat (AS) itu, deepfake yakni manipulasi audio dan visual berbasis AI untuk menciptakan konten baru yang tampak asli dan meyakinkan dan dapat memicu para pemimpin negara pemilik senjata nuklir untuk melancarkan serangan nuklir.

Salah satu risiko utama yang disoroti adalah kemungkinan pelimpahan kewenangan pengambilan keputusan penggunaan senjata nuklir kepada sistem berbasis AI.

Memicu Perpecahan

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa AI secara signifikan telah menghilangkan hambatan dalam pembuatan video, audio, dan gambar palsu, sehingga penyebaran informasi bohong menjadi semakin mudah dan luas.

Kondisi ini dinilai mengancam keamanan nuklir global karena deepfake dapat digunakan untuk meyakinkan suatu negara bahwa mereka sedang diserang dengan senjata nuklir.

Selain itu, deepfake berpotensi disalahgunakan untuk memanipulasi pemimpin negara bersenjata nuklir agar melancarkan serangan pendahuluan, merekayasa alasan perang, menggalang dukungan publik terhadap konflik, serta memicu perpecahan di dalam masyarakat, demikian laporan Foreign Affairs.

Sejumlah pakar keamanan internasional menilai, perkembangan teknologi AI yang semakin cepat dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan mekanisme deteksi dan kerja sama internasional yang solid.

Para ahli mendorong negara-negara untuk memperkuat sistem verifikasi informasi, meningkatkan literasi digital aparat strategis, serta membangun kesepakatan global guna mencegah penyalahgunaan teknologi deepfake yang dapat mengancam stabilitas dan keamanan dunia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Rona
Nekat Bolos Wamil, Mino WIN...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.