Libur Akhir Tahun, Orang Tua Diminta Waspada Lonjakan Kasus Campak pada Anak
📅 Selasa, 30 Des 2025, 17:38 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: RSPI
JAKARTA - Libur akhir tahun menjadi momen yang paling dinantikan untuk berwisata atau sekadar berkumpul bersama keluarga. Namun, tingginya mobilitas di masa liburan juga menjadi kekhawatiran orang tua akan risiko penularan infeksi virus, salah satunya campak.
“Meski campak bisa ditangani, sebaiknya tidak dianggap remeh karena komplikasinya tetap berisiko, terutama bagi anak yang imunitas tubuhnya belum sekuat orang dewasa. Vaksin menjadi gerbang utama untuk melindungi si kecil dari campak dan komplikasinya,” kata dr. Caessar Pronocitro, Sp. A, M.Sc, Dokter Spesialis Anak RS Pondok Indah - Bintaro Jaya melalui keteranganya pada hari Selasa (29/12).
Tren peningkatan kasus campak di Indonesia kembali menjadi perhatian. Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, tercatat lebih dari 3.500 kasus campak pada 2024. Sementara hingga Agustus 2025, campak telah tercatat lebih dari 3.400 kasus dan terjadi 46 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah wilayah. Beberapa negara dunia juga melaporkan peningkatan kasus campak, salah satunya di Amerika Serikat.
Campak atau secara medis disebut juga sebagai measles merupakan penyakit infeksi virus yang menular melalui saluran napas. Campak dapat ditularkan melalui droplets atau percikan liur dari mulut dan hidung penderita ketika batuk, bersin, atau berbicara.
Selain itu, virus ini juga dapat tertular dari sentuhan benda yang terkontaminasi droplets. Daya tular campak cukup tinggi, mirip dengan Covid-19. Seseorang yang terinfeksi campak dapat menularkan virusnya selama 4 hari sebelum dan sesudah gejala muncul. Virus campak juga mampu hidup di udara selama 2 jam, terutama dalam ruang dengan sirkulasi yang tertutup.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada anak, campak yang tidak segera ditangani lebih berisiko menyebabkan komplikasi serius karena berpotensi menyerang berbagai organ penting, bahkan hingga mengancam nyawa.Untuk itu, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak agar si kecil dapat ditangani dan mencegah terjadinya penularan lebih luas.
“Waspada jika anak mengalami gejala campak seperti demam, batuk kering, pilek atau hidung tersumbat, lemas, muntah, tidak nafsu makan, dan diare,” pesannya.
Beberapa hari setelah mengalami gejala, ruam kemerahan biasanya akan muncul di area wajah dan leher. Ruam juga dapat menyebar ke hampir seluruh tubuh. Ukuran ruam campak awalnya kecil, tetapi dapat menyatu dan membentuk ruam besar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Vaksinasi Campak untuk Cegah Penularan
Hingga kini, belum ada antivirus untuk mengatasi campak. Penanganan umumnya bersifat suportif yang bertujuan meredakan gejala, seperti beristirahat dengan cukup, menjaga asupan cairan dan gizi, serta mengonsumsi vitamin A dosis tinggi berdasarkan rekomendasi dokter untuk mencegah komplikasi pada mata dan menurunkan tingkat keparahan penyakit.
Campak lebih berbahaya jika dialami oleh bayi karena imunitas tubuhnya belum sempurna seperti orang dewasa. Mengingat penanganan campak hanya bersifat suportif, pencegahan menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan, yakni dengan melengkapi vaksinasi dan menjaga imunitas bayi dan anak.
Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, vaksin MR (measles rubella) pertama disuntikkan pada anak usia 9 bulan. Kemudian dosis kedua diberikan saat si kecil berusia 15-18 bulan dan dosis ketiga pada usia 5-7 tahun. Jika sampai usia 12 bulan anak belum mendapat vaksin MR, maka dapat diberikan vaksin MR/MMR (Mumps + MR), dosis kedua dengan interval 6 bulan, dan dosis ketiga pada usia 5–7 tahun.
Sayangnya, masih ada orang tua yang menolak vaksin karena berbagai alasan. Hal ini menjadi salah satu penyebab cakupan imunisasi menurun dan kasus infeksi virus, termasuk campak, meningkat. Padahal, satu anak yang tidak divaksinasi dapat menulari hampir semua orang di sekitarnya yang belum memiliki kekebalan.
Ironisnya, yang paling menderita akibat penurunan cakupan vaksin adalah bayi di bawah 9 bulan yang belum cukup usia untuk divaksinasi. Satu-satunya perlindungan mereka adalah kekebalan kelompok (herd imunity), yakni lingkungan sekitar yang mayoritas sudah terlindungi oleh vaksin.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!