Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Raksasa Teknologi Amazon Blokir 1.800 Pelamar Kerja dari Korea Utara

📅 Selasa, 23 Des 2025, 14:38 WIB | Oleh: Tim Penulis
Raksasa Teknologi Amazon Blokir 1.800 Pelamar Kerja dari Korea Utara Doc: NK News/KCTV
Ket. Ilustrasi - Pelajar Korea Utara menggunakan komputer.

SEOUL - Raksasa teknologi AS, Amazon, mengatakan telah memblokir lebih dari 1.800 warga Korea Utara untuk bergabung dengan perusahaan tersebut, karena Pyongyang mengirim sejumlah besar pekerja IT ke luar negeri untuk mendapatkan penghasilan dan mencuci uang.

Dalam sebuah unggahan di LinkedIn, Kepala Keamanan Amazon, Stephen Schmidt, mengatakan pekan lalu, pekerja Korea Utara "berusaha mendapatkan pekerjaan IT jarak jauh di perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, khususnya di AS". 

Ia mengatakan perusahaan tersebut melihat peningkatan hampir sepertiga dalam jumlah lamaran dari warga Korea Utara dalam setahun terakhir. 

Warga Korea Utara biasanya menggunakan "laptop farm" -- komputer di Amerika Serikat yang dioperasikan dari jarak jauh dari luar negeri, katanya. 

Ia memperingatkan masalah ini tidak spesifik untuk Amazon dan "kemungkinan terjadi dalam skala besar di seluruh industri".

Tanda-tanda yang menunjukkan pekerja Korea Utara, kata Schmidt, termasuk nomor telepon yang salah format dan kredensial akademis yang mencurigakan.

Pada bulan Juli, seorang wanita di Arizona dijatuhi hukuman lebih dari delapan tahun penjara karena menjalankan sebuah jaringan laptop yang membantu pekerja IT Korea Utara mendapatkan pekerjaan jarak jauh di lebih dari 300 perusahaan AS.

Skema tersebut menghasilkan pendapatan lebih dari $17 juta untuk dirinya dan Korea Utara, kata para pejabat.

Tahun lalu, badan intelijen Seoul memperingatkan bahwa agen Korea Utara telah menggunakan LinkedIn untuk menyamar sebagai perekrut dan mendekati warga Korea Selatan yang bekerja di perusahaan pertahanan untuk mendapatkan informasi tentang teknologi mereka.

"Korea Utara secara aktif melatih personel siber dan menyusup ke lokasi-lokasi penting di seluruh dunia," kata Hong Min, seorang analis di Institut Unifikasi Nasional Korea, kepada AFP.

"Mengingat sifat bisnis Amazon, motifnya tampaknya sebagian besar bersifat ekonomi, dengan kemungkinan besar bahwa operasi tersebut direncanakan untuk mencuri aset keuangan," tambahnya.

Program perang siber Korea Utara setidaknya sudah ada sejak pertengahan tahun 1990-an.

Sejak itu, unit tersebut telah berkembang menjadi unit siber berkekuatan 6.000 orang yang dikenal sebagai Biro 121, yang beroperasi dari beberapa negara, menurut laporan militer AS tahun 2020.

Pada bulan November, Washington mengumumkan sanksi terhadap delapan individu yang dituduh sebagai "peretas yang disponsori negara", yang operasi ilegalnya dilakukan "untuk mendanai program senjata nuklir rezim" dengan mencuri dan mencuci uang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Hari Laut Sedunia, Aksi Ped...

Musim Panen Beras Merah di Desa Jatiluwih

29 menit yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Musim Panen Beras Merah di ...

Pelatih Timnas John Herdman Ikut Memuji Penampilan U-19

30 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Pelatih Timnas John Herdman...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Paviliun Wonderful Indonesia Sabet Best Booth Design di SITF 2026

Paviliun Wonderful Indonesia Sabet Best Booth Design di SITF 2026

08 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 5
# 5
Ratifikasi IEU-CEPA Dorong Daya Saing
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.