Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ibu di Tengah Zaman Baru

📅 Senin, 22 Des 2025, 16:15 WIB | Oleh:

Namun tantangan terbesar datang dari perubahan pola hidup. Gawai, arus informasi global, dan tekanan ekonomi membuat relasi orang tua dan anak semakin berjarak.

Banyak ibu dituntut menjadi pendamping belajar, pengawas penggunaan teknologi, sekaligus penopang ekonomi keluarga. Tanpa dukungan kebijakan yang memadai, beban ini mudah berubah menjadi kelelahan struktural yang diam-diam merusak kualitas pengasuhan.


Era digital

Berita tentang ajakan agar ibu menjadi orang tua canggih dan tidak gagap teknologi mencerminkan pergeseran besar dalam peran keibuan.

Anak dan remaja hari ini hidup di dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Informasi datang tanpa saringan, nilai berubah cepat, dan identitas sering dibentuk oleh media sosial.

Dalam situasi ini, pendekatan otoriter tidak lagi efektif. Pengasuhan menuntut dialog, empati, dan kemampuan memahami dunia anak. Menekan ego, membuka diri, dan menjadi pendengar aktif bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kecanggihan baru dalam menjadi orang tua.

Pembatasan penggunaan gawai pada anak juga menjadi isu penting. Data tentang jumlah anak yang besar dan upaya mewujudkan kabupaten dan kota layak anak menunjukkan bahwa negara mulai menyadari dampak jangka panjang dari pola asuh yang abai. Anak yang terlalu dini terpapar gawai berisiko mengalami hambatan perkembangan motorik, bahasa, dan sosial.

Namun kebijakan pembatasan saja tidak cukup. Ibu dan keluarga membutuhkan ruang publik yang ramah anak, sistem pendidikan yang adaptif, serta dukungan komunitas.

Di sinilah peran organisasi perempuan, PKK, dan Dharma Wanita menjadi relevan. Mereka tidak hanya menjadi perpanjangan tangan program pemerintah, tetapi juga simpul solidaritas sosial yang memperkuat daya tahan keluarga.

Hari Ibu, dalam konteks ini, menjadi momentum untuk menggeser narasi dari pengorbanan individual menuju tanggung jawab kolektif. Ibu tidak bisa terus dibebani sebagai solusi tunggal atas semua persoalan anak.


Masa depan bangsa

Peran ibu tidak berhenti di rumah. Berbagai dorongan agar perempuan terlibat dalam politik, pembangunan, dan pengambilan keputusan menegaskan bahwa keibuan dan kepemimpinan publik bukan dua hal yang bertentangan.

Justru pengalaman mengasuh, merawat, dan mendidik memberi perspektif etis yang penting dalam kebijakan publik.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Denza Luncurkan Supercar Listrik Denza Z

44 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Otomotif
Denza Luncurkan Supercar Li...
Nasional
Kemenperin Dukung Pelestari...

BPOM Tetap Awasi Program MBG

2 jam lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
BPOM Tetap Awasi Program MBG
Menkeu Tegaskan Pemerintah Tak Naikan Tarif Pajak

Menkeu Tegaskan Pemerintah Tak Naikan Tarif Pajak

14 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.