Ibu di Tengah Zaman Baru
📅 Senin, 22 Des 2025, 16:15 WIB | Oleh: SujarIsu stunting, misalnya, memperlihatkan bagaimana peran keluarga dan negara saling terkait.
Gerakan orang tua asuh menunjukkan bahwa pemenuhan hak anak tidak bisa hanya mengandalkan anggaran negara, tetapi juga solidaritas sosial. Namun solidaritas ini tetap harus ditopang sistem yang adil agar tidak berubah menjadi tambal sulam.
Hari Ibu juga berkaitan erat dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Pembangunan sumber daya manusia tidak mungkin tercapai tanpa keluarga yang sehat dan setara. Ibu yang berdaya, terdidik, dan didukung kebijakan akan melahirkan generasi yang lebih tangguh.
Di sinilah refleksi Hari Ibu menemukan maknanya. Menghormati ibu bukan hanya dengan seremoni, tetapi dengan memastikan negara hadir melindungi anak, memperkuat keluarga, dan memberi ruang bagi perempuan untuk tumbuh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kasus kekerasan terhadap anak mengingatkan bahwa ketika keluarga gagal, negara harus bertindak. Namun idealnya, negara hadir lebih awal melalui pencegahan, edukasi, dan kebijakan yang berpihak.
Hari Ibu, pada akhirnya, adalah ajakan untuk bercermin. Apakah kita sudah benar-benar menjadikan rumah sebagai ruang aman. Apakah kebijakan publik sudah cukup ramah keluarga.
Dan apakah kita siap mengakui bahwa ibu bukan hanya simbol kasih, tetapi aktor utama pembangunan manusia. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan arah bangsa, jauh melampaui satu hari peringatan dalam kalender.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!