Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Duka Pasca Banjir: Ruang Kelas Hilang Ditelan Lumpur, Anak-Anak Berjuang Melanjutkan Belajar

📅 Selasa, 09 Des 2025, 10:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Duka Pasca Banjir: Ruang Kelas Hilang Ditelan Lumpur, Anak-Anak Berjuang Melanjutkan Belajar Doc: Antara Foto
Ket. Warga membersihkan barang genangan air yang mengalir pada ruas jalan dan persawahan yang sudah seperti sungai di Lingkungan IV, Kelurahan Hutanabolon, Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara

Air yang naik tiba-tiba di malam hari, ruang kelas yang terkubur lumpur, buku-buku yang mengering di jemuran darurat, dan anak-anak yang mendadak kehilangan tempat belajar.

Semua itu menjadi wajah muram Sumatera setelah banjir dan longsor menghantam tiga provinsi sekaligus, meninggalkan jejak kerusakan yang tak hanya merusak bangunan, tetapi juga memutus ritme belajar puluhan ribu siswa.

Setelah air surut, kondisi yang tampak lebih memilukan. Bangku terseret jauh, papan tulis nyaris tak terlihat, hingga perpustakaan kecil milik sekolah berubah menjadi tumpukan halaman basah yang sulit terselamatkan.

Aktivitas belajar terhenti, dan murid-murid menunggu kabar kapan mereka bisa kembali duduk di kelas seperti biasa. Pada saat itu, pemerintah bergerak cepat.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengirim tim verifikasi faktual ke titik-titik yang paling parah terdampak. Mereka berjalan melewati jalan berlumpur, menembus sisa-sisa reruntuhan, dan memetakan kebutuhan sekolah secara rinci—mulai dari ruang kelas darurat, paket belajar, alat peraga, hingga layanan pemulihan psikososial yang sangat dibutuhkan siswa dan guru yang masih berada dalam tekanan emosional.

Kemendikdasmen memperkirakan dampak kerusakan pada sekolah tidak bisa dipulihkan hanya dengan membersihkan ruang kelas. Banyak sekolah membutuhkan perbaikan struktural, pembaruan perangkat belajar, dan dukungan mental bagi siswanya.

Dana sebesar Rp13,3 miliar digelontorkan untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan, mengirim tenda kelas, menyiapkan perangkat komunikasi untuk sekolah yang aksesnya terputus, serta memberikan santunan bagi guru dan siswa yang kehilangan rumah. Langkah ini memastikan bahwa proses belajar dapat terus berjalan meski dalam kondisi darurat.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti turun langsung meninjau sekolah-sekolah di Padang Pariaman dan Agam. Ia berbincang dengan para guru yang masih berusaha menenangkan siswanya, mendengarkan cerita tentang ujian yang tertunda, serta melihat langsung anak-anak yang ikut kegiatan pemulihan psikososial di ruang kelas sementara.

Abdul Mu’ti meminta agar pembersihan sekolah dilakukan oleh tenaga profesional agar anak-anak bisa kembali belajar tanpa risiko keselamatan. Pemerintah juga memberikan fleksibilitas pelaksanaan ujian bagi siswa yang masih tinggal di pengungsian, memastikan tidak ada siswa yang tertinggal karena keadaan darurat.

Sementara rehabilitasi sekolah berlangsung, jenjang perguruan tinggi menghadapi beban yang tak kalah berat. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mencatat lebih dari enam ribu sivitas akademika terdampak dan puluhan kampus mengalami kerusakan layanan.

Beberapa kampus kehilangan laboratorium, arsip penelitian, bahkan ruang diskusi yang selama ini menjadi tempat mahasiswa bertukar gagasan.

Kemdiktisaintek menyiapkan langkah dua fase, mulai dari masa tanggap darurat hingga rencana rehabilitasi jangka menengah pada 2026. Setidaknya tiga belas kampus ditetapkan sebagai pusat koordinasi akademik untuk memastikan proses akademik tidak terputus. Kampus-kampus di luar wilayah bencana bergerak menjadi jejaring pendukung.

Ada kampus yang membuka aula menjadi tempat tidur puluhan pengungsi, ada yang mengerahkan tim medis fakultas kesehatan untuk membantu penyintas, dan ada pula yang mengirim relawan mahasiswa untuk memetakan kebutuhan dasar masyarakat. Para dosen mengajak mahasiswa mereka untuk turun langsung, menjadikan bencana sebagai ruang belajar kemanusiaan yang sulit diperoleh di kelas.

Di ranah riset dan pengabdian masyarakat, pemerintah membuka program bantuan hingga Rp500 juta per proposal. Kampus-kampus didorong menyusun intervensi berbasis ilmu, mulai dari penyelenggaraan pendidikan darurat, rekonstruksi ruang belajar, pemulihan psikologis penyintas, hingga penyusunan sistem mitigasi kebencanaan jangka panjang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Diserang Rudal Iran, Bandar...
Luar Negeri
Warga Singapura Makin Panja...
Luar Negeri
Disapu Topan Jangmi, 23 War...

Babel Gatiskan 6.000 Sertifikat Halal

40 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Babel Gatiskan 6.000 Sertif...
Luar Negeri
Bandara Dihantam Rudal, Kuw...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.