Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Keanekaragaman Hayati Afrika Sub-Sahara Menyusut Drastis

📅 Kamis, 04 Des 2025, 15:47 WIB | Oleh:
Keanekaragaman Hayati Afrika Sub-Sahara Menyusut Drastis Doc: AFP/Getty Images

CAPE TOWN - Afrika Sub-Sahara telah kehilangan hampir seperempat dari keanekaragaman hayatinya dibandingkan dengan tingkat pra-industri, menurut studi baru yang dipimpin oleh tim peneliti Afrika.

Universitas Stellenbosch mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Rabu (3/12) bahwa studi yang diterbitkan di jurnal Nature itu menemukan bahwa Afrika Sub-Sahara telah kehilangan 24 persen dari keanekaragaman hayatinya sejak masa pra-industri.

Hayley Clements, penulis utama dari Pusat Transisi Keberlanjutan di Universitas Stellenbosch, mengatakan bahwa banyak penilaian keanekaragaman hayati global gagal mencerminkan realitas Afrika karena bergantung pada data lokal yang terbatas. "Dengan bekerja langsung bersama pihak-pihak yang meneliti dan mengelola ekosistem Afrika, kami dapat memperoleh gambaran yang jauh lebih realistis tentang di mana keanekaragaman hayati menurun, di mana yang tetap terjaga, dan apa sebabnya," kata Clements.

Proyek yang berlangsung selama lima tahun itu mengumpulkan wawasan dari 200 pakar di berbagai penjuru Afrika, mulai dari peneliti, jagawana, pemandu wisata, hingga kurator museum. Gabungan pengetahuan mereka kemudian digunakan untuk menyusun Indeks Keutuhan Keanekaragaman Hayati tingkat benua, yang mengukur persentase kelimpahan spesies asli yang masih tersisa di setiap area.

Menurut studi itu, meski beberapa jenis tumbuhan yang tahan terhadap gangguan hanya mengalami penurunan sekitar 10 persen, populasi mamalia besar seperti gajah, singa, dan beberapa spesies antelop telah menyusut lebih dari 75 persen dibandingkan jumlahnya di masa lalu. Penurunan ini disebabkan oleh perluasan lahan pertanian, pemanenan yang tidak berkelanjutan, serta penggembalaan yang intensif.

Negara-negara Afrika Tengah mempertahankan tingkat keutuhan keanekaragaman hayati tertinggi berkat hutan lembap yang tetap lestari, sedangkan Afrika Barat menunjukkan tingkat keanekaragaman hayati terendah akibat degradasi hutan dan sabana yang parah.

Sementara itu, lebih dari 80 persen tumbuhan dan hewan liar yang tersisa terdapat di lahan produktif alih-alih kawasan lindung.

"Kawasan lindung tetap vital, terutama bagi mamalia besar Afrika, namun itu saja tidak cukup untuk menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati. Pengelolaan berkelanjutan lanskap produktif bersama menjadi kunci untuk mempertahankan keanekaragaman hayati dan mendukung mata pencaharian," tambah Clements. Ant/Xinhua

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Modena Tawarkan Diskon hingga 77 Persen di PRJ

15 menit yang lalu | Haryo Brono

Rona
Modena Tawarkan Diskon hing...
Nasional
DPR RI Ingatkan Pariwisata ...
Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.