Butuh Dana Setara APBN Empat Tahun! RI Hadapi Tantangan Pendanaan Iklim USD757,6 Miliar
📅 Selasa, 02 Des 2025, 17:27 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/Yudi Manar
JAKARTA – Indonesia membutuhkan pendanaan sebesar 757,6 miliar dolar AS atau setara 12.591,31 triliun hingga 2035 untuk mencapai target perubahan iklim.
Jumlah tersebut setara dengan nilai APBN selama empat tahun, menggambarkan besarnya kesenjangan antara kebutuhan pembiayaan dan kapasitas pendanaan domestik.
Target tersebut sesuai komitmen pada Enhanced dan Secondary Nationally Determined Contribution pada tahun 2035.
Angka tersebut mencerminkan tuntutan investasi yang tidak hanya mencakup transisi energi, tetapi juga adaptasi terhadap dampak iklim dan pembangunan infrastruktur rendah karbon.
Tantangannya adalah bagaimana menarik modal internasional, memperluas instrumen pembiayaan hijau, serta memperbaiki ekosistem regulasi agar risiko investasi semakin rendah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tanpa strategi mobilisasi pendanaan yang lebih agresif dan kolaboratif, target iklim nasional berisiko meleset dari jalur yang direncanakan.
“Jika dibandingkan saat ini, alokasi anggaran terkait iklim baru mencapai 3 persen (dari) APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara),” ucap Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy dalam agenda Peluncuran Dana Inovasi Teknologi dan Kajian Solusi Berketahanan Iklim di Gedung Bappenas Jakarta, Selasa (2/12).
Secara rata-rata, belanja iklim pemerintah selama 2016-2024 sebesar 4,4 miliar dolar AS per tahun atau 3 persen dari APBN. Ini berarti masih terdapat jarak pendanaan iklim yang besar
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada Konferensi Perubahan Iklim ke-30 PBB (COP30) di Belém, Brasil, pembiayaan iklim menjadi agenda prioritas global untuk menghadapi perubahan iklim.
Beberapa poin yang disepakati yaitu target mobilisasi pembiayaan iklim global melalui New Collective Quantified Goal on Climate Finance (NCQG) mencapai 1,3 triliun dolar AS per tahun pada 2035, lalu peningkatan pendanaan adaptasi tiga kali lipat pada 2035, serta pembentukan Tropical Forest Forever Facility dengan pendanaan awal sekitar 6,7 miliar dolar AS.
Situasi ini dinilai menuntut Indonesia memperkuat kesiapan tata kelola, program, dan proyek yak dapat memobilisasi pendanaan investasi.
Investasi dianggap menjadi kunci untuk memperkuat teknologi, inovasi dan basis pengetahuan sebagai fondasi utama guna mengakselerasi transisi rendah karbon dan ketahanan iklim Indonesia.
Menurut dia, investasi awal terkait iklim harus diarahkan untuk skalabilitas teknologi rendah karbon yang membuka peluang ekonomi besar.
Berdasarkan World Resources Institute (WRI) tahun 2025, setiap satu dolar AS yang diinvestasikan dalam adaptasi iklim akan menghasilkan lebih dari 10 dolar AS manfaat selama 10 tahun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!