Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kisah Pantai Nipah dari Perburuan Penyu hingga Surga 'Snorkeling' Keindahan Bawah Laut

📅 Selasa, 25 Nov 2025, 18:05 WIB | Oleh:


Harmoni bawah laut

Di tengah kesejukan Pantai Nipah, Among menyambut setiap pengunjung. Sebagai salah satu penyedia penyewaan alat snorkeling, ia merupakan bagian garda terdepan yang menjaga kelestarian perairan.

Dengan wajah ramah, Among menjelaskan bahwa usaha penyewaan alatnya yang berjalan sejak tahun 2022 telah menjadi saksi bagaimana perairan Nipah menarik hati banyak penyelam laut dangkal.

Keindahan karang perairan Nipah yang masih alami dan bagus, serta jaminan bertemu penyu menjadi daya tarik tak terbantahkan. Para wisatawan hampir setiap hari bisa melihat penyu, saat snorkeling di perairan Nipah.

Di balik keindahan itu, Among memaparkan tantangan yang harus dihadapi, sekaligus menjadi pengingat yang menyentuh bagi setiap pengunjung.

Sampah yang terbawa angin atau hanyut dari daratan merupakan kendala terbesar yang dihadapi Pantai Nipah. Plastik-plastik sampah sering terhanyut ke laut dan berpotensi dimakan penyu karena bentuknya mirip ubur-ubur, makanan favorit mereka.

Selain itu, penyu juga sering terjerat jaring atau tersangkut kail pancing nelayan, sebuah risiko yang menuntut upaya pelestarian yang lebih ekstra dari komunitas TCC Nipah.

Melalui cerita tersebut, Among berharap setiap penyewaan alat snorkeling di Nipah bukan hanya tentang menikmati alam, tetapi juga tentang tanggung jawab. Prinsip utama yang dijaga adalah perlindungan biota laut, termasuk memastikan pengunjung tidak naik ke karang dan tidak boleh menyentuh penyu.

Melalui penyewaan alat yang terjangkau—masker dan snorkel seharga Rp25.000 per jam—Among tidak hanya menjual jasa, tetapi juga menanamkan kesadaran lingkungan kepada setiap turis.


Kehangatan komunitas

Komitmen komunitas dan keindahan alam bawah laut mencuri hati Svetlana Elkina, seorang turis asal Rusia, yang akrab dipanggil Lana.

Ia memilih Nipah, bukan hanya karena airnya yang lebih tenang dan tidak ada gelombang, tetapi juga karena perbandingan proyek konservasi. Lana merasa cara TCC Nipah merawat tukik lebih alami dan natural dibandingkan tempat lain yang ia temui di Gili Tramena yang cenderung menahan tukik terlalu lama di kolam.

Lana menjalani snorkeling hampir setiap hari karena jatuh cinta kepada suasana sosial, lingkungan, dan isi bawah laut. Ia bahkan pernah menghitung saat air sedang kurang jernih, sekalipun masih bisa melihat sekitar sepuluh penyu berenang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Olahraga
Ada 44 Cabor! Porprov Kalta...

Bantai Persikad Depok 4-0, PSMS Medan Tunjukkan Taringnya

45 menit yang lalu | Marcellus Widiarto

Olahraga
Bantai Persikad Depok 4-0, ...

Apakah Ada yang Tahu Apa Itu Jelekongism

3 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Apakah Ada yang Tahu Apa It...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.