Indonesia Siap Jadi Raja Akuakultur! Kemlu Tegaskan Kepemimpinan di Ekonomi Biru
📅 Kamis, 20 Nov 2025, 21:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Budi Candra Setya
JAKARTA – Pengembangan akuakultur dan ekonomi biru menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan pangan, menciptakan nilai tambah, serta menjaga keberlanjutan sumber daya laut.
Dengan tekanan terhadap perikanan tangkap yang kian meningkat, akuakultur menawarkan solusi produksi yang lebih terukur dan efisien.
Sementara itu, ekonomi biru mendorong pengelolaan ruang laut yang berkelanjutan melalui inovasi, investasi, dan pemanfaatan potensi maritim secara bertanggung jawab.
Sinergi keduanya tidak hanya membuka peluang ekonomi baru, tetapi juga mempercepat transformasi menuju sektor kelautan yang produktif, modern, dan ramah lingkungan.
Indonesia memiliki peran strategis dalam industri akuakultur global dan menegaskan perannya sebagai pemimpin dalam mendorong pengembangan ekonomi biru di kawasan Samudra Hindia, menurut Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pada 2022, Indonesia menempati posisi sebagai produsen akuakultur terbesar kedua di dunia, menyumbang sekitar 10 persen dari total produksi global,” kata Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI Abdul Kadir Jailani dalam keterangan tertulis Kemlu RI di Jakarta, Kamis (20/11) .
Menurutnya, capaian tersebut sangat relevan pada hari ini, sejalan dengan prioritas Presiden Prabowo dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Dia menyampaikan hal tersebut dalam penyelenggaraan lokakarya internasional berjudul “IORA Workshop on Enhancing Biosecurity Practices in Inland Aquaculture Farms” di Padang, Sumatra Barat, pada 19-20 November 2025.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi Ansharullah mengatakan bahwa pemerintah provinsi Sumatra Barat berkomitmen untuk menjadikan Sumatra Barat sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Lokakarya internasional itu membahas berbagai macam topik terkait penguatan ketahanan pangan di sektor akuakultur, baik dari sisi kebijakan nasional maupun praktik terbaik yang telah diterapkan di berbagai negara anggota IORA.
Disebutkan juga bahwa fokus diskusi mencakup penerapan biosekuriti dalam budidaya perikanan darat, peningkatan kapasitas pemangku kepentingan, serta inovasi akuakultur berkelanjutan yang mampu mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir.
Para peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke unit usaha budidaya ikan, ‘Kampung Guo’ dan ‘Tuan Krab’ di Padang untuk melihat langsung penerapan prinsip biosekuriti dan sistem biofolk serta inovasi pengolahan hasil perikanan yang mendukung nilai tambah ekonomi lokal.
Lokakarya internasional tersebut diselenggarakan oleh Kemlu RI dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, dan dihadiri oleh perwakilan FAO Bin Hao, pakar akuakultur Thailand Malasri Khumsri, serta negara anggota dan mitra dialog IORA.
Diketahui Sumatra Barat mengekspor hasil ikan laut senilai Rp3,5 miliar pada kuartal I-2025, di mana komoditas yang diekspor termasuk ikan hias laut, ikan betutu, tuna beku, ikan garing (Tor tambroides), dan cangkang kerang dengan tujuan ekspor ke China, Jepang, Malaysia, Thailand, dan AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!