Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pencipta Gim Sebaiknya Dibekali Nasionalisme

📅 Minggu, 16 Nov 2025, 15:28 WIB | Oleh:
Pencipta Gim Sebaiknya Dibekali Nasionalisme Doc: antara foto
Ket. Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena

SEMARANG - Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena menilai penting pencipta gim di Indonesia dibekali nilai-nilai nasionalisme dalam menciptakan suatu kreativitas.

"Developer gim harus kita bekali, harus punya bekal nasionalisme," kata Samuel Wattimena saat membuka bimbingan teknis Peluang dan Tantangan Sinergi Gim dan AI Dalam Ekonomi Kreatif di Semarang, Minggu (16/11).

Bonus demografi yang dimiliki Indonesia, kata dia, mau tidak mau memaksa agar dapat mengikuti perkembangan teknologi.

Industri gim, lanjut dia, akan menjadi salah satu pendukung pergerakan perekonomian Indonesia.

Oleh karena itu, ia menilai para pembuat gim harus memahami tentang adanya kedaulatan politik, upaya mencapai kemandirian perekonomian, serta mengangkat kepribadian di bidang kebudayaan.

Demikian juga, menurut dia, pentingnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai teknologi yang menyerap berbagai informasi. "Oleh karena itu, informasi yang dihimpun haruslah informasi yang benar," tambahnya.

Sementara Direktur Gim Kementerian Ekonomi Kreatif Luat Sihombing menyebut sudah banyak unsur ke-Indonesia-an yang dimasukkan dalam suatu gim, namun memang tidak secara eksplisit dimarketingkan.

Adapun berkaitan dengan penggunaan kecerdasan buatan, ia menyebut pemanfaatannya sudah cukup luas.

Namun, ia mendorong agar kecerdasan buatan dimanfaatkan secara bijaksana sebagai alat bantu, termasuk di ekonomi kreatif.

Sebelumnya, pengamat telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi menekankan pentingnya peran guru dalam melakukan pendekatan langsung kepada anak didik untuk mencegah dampak paparan konten negatif atau berisiko dalam gim daring.

Meski demikian, Heru menilai pendekatan yang dilakukan untuk mencegah dampak konten negatif atau upaya literasi penggunaan platform digital dengan bijak tidak harus dikukuhkan menjadi kurikulum pendidikan formal.

“Tidak semua harus masuk kurikulum, sebab nanti akan membebani siswa juga. Cukup literasi, edukasi dan pengawasan. Misalnya edukasi dan pendekatan guru ke anak didik,” kata Heru, Rabu lalu.

Upaya edukasi di sekolah, sambungnya, perlu diiringi dengan pengawasan aktif dari orang tua di rumah serta program literasi digital dari pemerintah yang digelar ke sekolah-sekolah.

Berkaca dari insiden ledakan yang terjadi di SMA Negeri 72 Jakarta pada Jumat (7/11), Heru menilai kejadian tersebut menjadi momentum introspeksi, baik pemerintah, pengembang gim, sekolah, hingga orang tua.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Ekonomi
BNI Private Dinobatkan seba...
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.