Prabowo Siap Kopdar dengan Macron di G20 Afrika, Jelang Kedatangan Rafale dan Manuver Besar Belanja Alutsista
📅 Jumat, 14 Nov 2025, 16:15 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: Biro Pers Kepresidenan
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron berpotensi menggelar pertemuan singkat di sela-sela KTT G20 Afrika, bersamaan dengan persiapan Indonesia menyambut kedatangan jet tempur Rafale. Pertemuan tersebut menjadi salah satu agenda strategis menjelang kehadiran pesawat tempur asal Prancis yang dipesan Jakarta sejak beberapa tahun terakhir.
Kementerian Pertahanan menyebut koordinasi intens terus dilakukan untuk memastikan pertemuan kedua pemimpin dapat terlaksana. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bahkan telah bertemu Duta Besar Prancis untuk Indonesia Fabien Penone guna membahas detail rencana interaksi keduanya selama berada di Johannesburg pekan depan.
"Kami membahas peluang pertemuan bilateral antara Presiden Indonesia dan Presiden Emmanuel Macron di sela-sela KTT G20 di Afrika, serta sejumlah agenda strategis yang perlu difinalkan sebelum pertemuan tersebut," ujar Sjafrie.
Afrika Selatan akan menjadi tuan rumah KTT G20 pada 22–23 November, dan untuk pertama kalinya forum internasional tersebut digelar di benua Afrika. Penyelenggaraan ini juga menjadi momentum penting bagi Jakarta dan Paris untuk memperkuat kerja sama pertahanan yang kian berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Sjafrie mengungkapkan bahwa Indonesia dan Prancis tengah menyiapkan kesepakatan dukungan logistik timbal balik. Perjanjian ini umumnya memberi akses saling membantu fasilitas militer, terutama untuk dukungan logistik selama latihan gabungan maupun operasi penjaga perdamaian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Indonesia sendiri telah memesan 42 unit jet tempur Rafale dari Dassault Aviation sebagai bagian dari modernisasi alat utama sistem senjata. Pemerintah telah memastikan tiga unit pertama akan mendarat di Indonesia pada kuartal pertama 2026, sementara unit lain akan menyusul secara bertahap sesuai jadwal pengiriman.
Langkah Prabowo memperkuat armada tempur tidak berhenti pada pembelian Rafale saja. Pada tahun pertama masa jabatannya sebagai presiden, Indonesia juga menandatangani kontrak pembelian 48 pesawat tempur KAAN buatan Turki. Kontrak ini menjadi salah satu kerja sama pertahanan terbesar antara kedua negara dan menandai manuver besar Indonesia dalam memperbarui kekuatan udaranya.
Di sisi lain, Prabowo menegaskan komitmen Indonesia terhadap proyek pengembangan jet tempur KF-21 bersama Korea Selatan. Meski Indonesia beberapa kali terlambat dalam memenuhi pembayaran, pemerintah telah menyepakati pemotongan kontribusi finansial yang berimbas pada berkurangnya alih teknologi. Keterlambatan pembayaran dan isu dugaan pencurian data oleh teknisi Indonesia sempat memicu polemik mengenai keseriusan Jakarta dalam proyek tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kami akan terus membahas tindak lanjut proyek KF-21. Negosiasi selalu bergantung pada ekonomi, harga, dan skema pembiayaan. Para menteri akan melanjutkan diskusi dengan tim Anda, dan para teknisi juga akan terus bekerja," kata Prabowo kepada Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dalam pertemuan di sela-sela KTT APEC beberapa waktu lalu.
Indonesia juga menjadi sorotan setelah Sjafrie memberi sinyal minat terhadap jet tempur China J-10 yang harganya jauh lebih murah dibandingkan Rafale. Pernyataan tersebut memicu spekulasi publik, namun Sjafrie meluruskan bahwa Indonesia hanya sekadar window-shopping untuk membandingkan opsi.
Menurut CNA, jet tempur Rafale memiliki kisaran harga 100-120 juta dolar AS per unit sehingga tergolong dalam kategori premium. Sementara itu, jet tempur Chengdu J-10 asal China dihargai sekitar 30-40 juta dolar AS per unit, atau hanya sepertiga dari harga Rafale, dan menawarkan opsi yang lebih ramah anggaran bagi negara berkembang.
Di tengah dinamika geopolitik kawasan dan kebutuhan modernisasi alutsista yang semakin mendesak, manuver Indonesia di pasar persenjataan diperkirakan akan terus menjadi perhatian global. Kedatangan Rafale tahun depan, kemungkinan pertemuan dengan Macron, serta berbagai opsi kerja sama baru akan menentukan arah strategi pertahanan Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!