Regenerasi Petani Dimulai, Kuningan Latih Anak Muda Garap Pertanian Organik Berkelanjutan
📅 Rabu, 12 Nov 2025, 20:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Fathnur Rohman.
KUNINGAN – Keterlibatan petani muda dalam pengembangan pertanian organik dan mandiri menjadi kunci transformasi sektor pertanian menuju sistem yang berkelanjutan.
Generasi muda membawa inovasi, pemanfaatan teknologi, dan pola pikir kewirausahaan yang dapat mempercepat adopsi praktik ramah lingkungan.
Pertanian organik tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk, tetapi juga menjaga kesuburan tanah dan ekosistem jangka panjang.
Dengan kemandirian produksi dan pengelolaan, petani muda berpotensi membangun rantai nilai yang lebih efisien serta mengurangi ketergantungan pada input kimia dan impor.
Dukungan kebijakan, akses pembiayaan, serta pelatihan teknis akan menjadi faktor penting untuk memastikan regenerasi petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, melatih tiga puluhan petani muda untuk mengembangkan pertanian organik dan mandiri dalam rangka meningkatkan produktivitas komoditas unggulan di daerah tersebut.
“Program magang usaha tani bagi regenerasi petani ini berlangsung mulai 6 November hingga 31 Desember 2025 di Cigugur,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah di Kuningan, Rabu (12/11).
Ia mengatakan program yang diikuti 32 peserta dari 13 kecamatan itu merupakan kolaborasi daerah dengan pemerintah pusat untuk memperkuat regenerasi petani muda dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan agribisnis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, pelatihan tersebut dirancang agar peserta memahami praktik pertanian modern tanpa meninggalkan kearifan lokal, serta berani berinovasi menghadapi perubahan iklim dan ketergantungan pada pupuk kimia.
Wahyu menjelaskan Diskatan Kuningan telah melakukan uji coba pupuk organik cair (POC) pada 16 demplot sawah, yang hasilnya mampu meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan.
Hasilnya, kata dia, produktivitas naik dari 6 ton menjadi 10-12 ton per hektare dengan biaya operasional yang jauh lebih murah.
“Kami sudah melakukan demplot dengan mengurangi dosis pupuk kimia hingga 50 persen dan menambahkan POC,” ujarnya.
Ia mengajak para petani memanfaatkan sumber daya alam sekitar untuk membuat pupuk organik dan pengendali hama alami, guna mendorong kemandirian usaha tani di tingkat lokal.
“Masa depan pertanian Kuningan, terletak pada kemampuan petani berpihak pada alam dan menggali kebijaksanaan lokal,” tuturnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!