Mentan Genjot Hilirisasi Kelapa, Target Ekspor Tembus Rp2.400 Triliun
📅 Minggu, 09 Nov 2025, 20:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Istimewa.
JAKARTA – Komoditas kelapa memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi nasional mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia.
Selain sebagai sumber devisa ekspor, kelapa juga memiliki nilai tambah tinggi melalui hilirisasi produk turunan seperti minyak kelapa, santan, serat sabut, dan arang aktif.
Namun, pengembangan potensi ini masih terkendala rendahnya produktivitas tanaman tua, kurangnya inovasi pengolahan, serta akses pembiayaan bagi petani.
Penguatan industri hilir dan modernisasi budidaya menjadi kunci untuk menjadikan kelapa sebagai komoditas unggulan berdaya saing global.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan hilirisasi kelapa menjadi strategi utama untuk meningkatkan nilai ekspor nasional hingga Rp2.400 triliun sekaligus memperkuat kesejahteraan petani di berbagai daerah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Amran ditemui di Jakarta, Jumat (7/11), mengatakan saat ini nilai ekspor kelapa Indonesia mencapai Rp24 triliun, menempatkan Indonesia sebagai produsen dan eksportir kelapa terbesar di dunia dengan potensi pengembangan yang masih luas.
Ia mengatakan jika hilirisasi dijalankan sesuai diagram pohon industri maka nilai ekspor kelapa nasional bisa meningkat hingga 100 kali lipat atau setara Rp2.400 triliun.
"Sekarang ekspor kelapa kita nilainya Rp24 triliun, kita terbesar nomor satu dunia. Nah, ini kita hilirisasi. Kalau sesuai diagram pohon industri itu bisa 100 kali lipat. Artinya apa? Bisa Rp2400 triliun (nilai ekspor kelapa), tapi itu secara teori, bisa saja hanya 50 persen, 50 kali lipat, atau 20 kali lipat," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia mengatakan hilirisasi kelapa dinilai mampu memperkuat rantai nilai industri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya lokal yang lebih berkelanjutan.
Amran menuturkan efek hilirisasi sudah mulai dirasakan di lapangan, salah satunya di Maluku Utara, di mana harga kelapa naik dari Rp600 menjadi Rp3.500 per butir atau sekitar 500 persen.
Ia optimistis harga kelapa bisa terus meningkat hingga Rp6.000 per butir atau naik 1.000 persen, apabila seluruh rantai produksi dan pengolahan berjalan optimal secara nasional.
"Yang kami baru kunjungan di Maluku Utara, harga kelapa sebelum kita hilirisasi harganya Rp600 per biji. Sekarang Rp3.500 per biji, itu naik kurang lebih 500 persen," ujarnya.
Dengan potensi tersebut, Amran menegaskan, hilirisasi kelapa bukan sekadar strategi industri, tetapi tonggak penting dalam membangun ekonomi rakyat dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin pasar kelapa dunia.
"Dan kita harap, harusnya harganya minimal Rp5.000 per butir. Dan bisa naik 1.000 persen harusnya. Nah, itulah keuntungan," ucapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!