Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kisah Haru Anak-Anak Sekolah Rakyat: Dari Putus Sekolah hingga Bangkit Mengejar Mimpi

25 Senin, 03 Nov 2025, 20:40 WIB | Oleh:
Kisah Haru Anak-Anak Sekolah Rakyat: Dari Putus Sekolah hingga Bangkit Mengejar Mimpi Kisah Haru Anak-Anak Sekolah Rakyat: Dari Putus Sekolah hingga Bangkit Mengejar Mimpi Doc: ANTARA/Farhan Arda Nugraha.
Ket. Murid dan guru Sekolah Rakyat Menengah Pertama 23 Makassar.

JAKARTA - Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah menghadirkan ruang belajar baru bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. 

Melalui pendidikan gratis, fasilitas asrama, dan pendampingan karakter, sekolah ini menjadi tempat banyak anak kembali memupuk harapan yang sempat meredup. Dari Makassar, kisah-kisah perjuangan mereka menggambarkan bagaimana kesempatan kecil dapat mengubah masa depan.

Sekolah ini tidak hanya menyediakan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, tetapi juga tempat tinggal hingga bimbingan karakter agar mereka bisa tumbuh dengan layak dan kembali mengejar cita-cita yang sempat terhenti.

Sekolah Rakyat Menengah Pertama 23 Makassar dan Sekolah Rakyat Menengah Atas 26 Makassar merupakan bagian dari total 16 Sekolah Rakyat yang tersebar di beberapa titik rintisan di Provinsi Sulawesi Selatan. Di tempat inilah anak-anak dari berbagai latar belakang menemukan ruang untuk belajar, berjuang, dan menyalakan kembali harapan untuk mengejar cita-cita mereka.

Salah satu dari mereka adalah Nurul Atika, siswi Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Makassar. Awalnya, Tika menolak ketika orang tuanya mengabarkan tentang sekolah berasrama itu. Ia takut harus berpisah dari ibunya yang tinggal di rumah sederhana di Makassar.

Namun, keputusan itu perlahan berubah. Ia menyadari, bersekolah di tempat ini berarti meringankan beban keluarga, terutama ibunya yang kini menjadi orang tua tunggal setelah sang ayah meninggal dunia. Sejak tinggal di asrama, Tika merasa kehidupannya lebih teratur, bisa belajar hidup mandiri, dan mengenal banyak teman.

Fasilitas sekolah yang lengkap membuatnya tak perlu memikirkan biaya seragam hingga makanan sehari-hari. Semua disediakan secara gratis. Ia juga dibimbing oleh guru-guru yang tidak hanya mengajar, tetapi mendampingi mereka layaknya orang tua.

Di Sekolah Rakyat, kepercayaan diri Tika semakin tumbuh. Ia bahkan pernah mencalonkan diri sebagai ketua OSIS di sekolahnya dan hal ini didukung penuh oleh ibunya. Meskipun tidak terpilih, itu tidak menyurutkan semangat dan rasa percaya diri Tika.

Kini Tika memiliki mimpi besar yakni ingin menjadi psikolog dan melanjutkan kuliah ke China. Ia sering menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah untuk mencari informasi tentang beasiswa dan perguruan tinggi di China.

"Menurut saya pendidikan di China itu bagus dan saya ingin jadi psikolog karena saya penasaran dengan cara berpikir manusia," kata dia.

Kisah serupa datang dari Muhammad Radika Maulana, siswa SRMA 26 Makassar lainnya. Ia tinggal bersama ibunya dan empat adiknya setelah ayahnya meninggal dunia. Kakaknya yang bekerja sebagai karyawan menjadi tulang punggung keluarga. Kehidupan sederhana itu tak menyurutkan semangat Radika untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

Saat pertama kali mendapat informasi soal Sekolah Rakyat, ia langsung tertarik. Di asrama, Radika merasa hidupnya berubah. Ia memiliki kamar yang layak, fasilitas lengkap, dan lingkungan belajar yang nyaman.

Guru-guru di sekolah itu menggunakan cara belajar yang menyenangkan agar para siswa tak merasa terbebani. Bagi Radika, hal itu membuatnya semakin semangat.

Kini ia bisa fokus belajar dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi untuk mengejar cita-cita menjadi hakim. Ia mengaku menaruh minat tinggi terhadap mata pelajaran matematika, pendidikan pancasila, dan sejarah

"Di Sekolah Rakyat kami berasal dari suku, ras, agama yang berbeda. Harapannya supaya untuk bisa lebih memahami, serta ingin menjadikan sekolah rakyat ini sebagai jembatan untuk menempuh cita-cita," kata Radika.

Lain halnya dengan Nurkhalifa, siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar. Ia sempat berhenti sekolah selama dua tahun karena keterbatasan biaya. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Daerah
Kerawangan Papua Tengah Cuk...
Ekonomi
Di WCCE 2026, Kementerian E...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
KP3 ABAS Deklarasikan Pembentukan Provinsi Aceh Barat Selatan

KP3 ABAS Deklarasikan Pembentukan Provinsi Aceh Barat Selatan

25 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.