Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kisah Haru Anak-Anak Sekolah Rakyat: Dari Putus Sekolah hingga Bangkit Mengejar Mimpi

📅 Senin, 03 Nov 2025, 20:40 WIB | Oleh:

"Di Sekolah Rakyat kami berasal dari suku, ras, agama yang berbeda. Harapannya supaya untuk bisa lebih memahami, serta ingin menjadikan sekolah rakyat ini sebagai jembatan untuk menempuh cita-cita," kata Radika.

Lain halnya dengan Nurkhalifa, siswi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar. Ia sempat berhenti sekolah selama dua tahun karena keterbatasan biaya. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga.

Meski sempat menyerah pada keadaan, ia kembali menemukan semangat belajar ketika pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) memberi tahu adanya Sekolah Rakyat.

Ketika pertama kali datang, rasa canggung menyelimuti dirinya. Ia harus beradaptasi dengan kehidupan asrama dan lingkungan baru yang lebih disiplin. Namun, seiring waktu, Nurkhalifa mulai menikmati hari-harinya di sekolah. Ia aktif dalam kegiatan seni budaya, olahraga, serta mengikuti les Bahasa Inggris.

Kini, Nurkhalifa belajar lebih keras untuk mengejar mimpinya menjadi dokter. Sempat mengubur impian menjadi dokter karena putus sekolah, berkat Sekolah Rakyat, Nurkhalifa kembali memupuk harapan dan berjuang dalam menggapai cita-citanya.

“Senang dan lebih semangat lagi belajarnya karena sempat putus sekolah selama dua tahun lebih. Fasilitasnya sudah lengkap dan bagus juga," kata Nurkhalifa saat ditanya soal perasaannya belajar di Sekolah Rakyat.

Di SRMP 23 Makassar pula, dua anak laki-laki bernama Ilham Alkadri dan Muh Zaki Sutikno memiliki kisah perjuangan hidup yang menyentuh. Keduanya baru berusia 13 tahun, namun telah mengenal arti kerja keras sejak kecil. Ilham berasal dari keluarga pembuat gulali rumahan.

Sebelum bersekolah di Sekolah Rakyat, ia biasa berkeliling menjual gulali hingga tengah malam untuk membantu ibunya. Zaki, di sisi lain, anak dari buruh dan penjual nasi kuning yang sering membantu mengantarkan pesanan pelanggan.

Kini, mereka bisa melanjutkan pendidikan. Hidup di asrama membuat mereka memiliki rutinitas yang lebih sehat dan waktu belajar yang cukup. Mereka bangun sebelum subuh, sarapan bersama, lalu berangkat sekolah.

Meski latar belakang mereka sederhana, impian keduanya tidak kecil. Ilham ingin menjadi prajurit Kopassus, sementara Zaki bercita-cita menjadi koki. Mereka mengaku Sekolah Rakyat menjadi penyambung asa untuk menggapai cita-citanya.

Dari ruang-ruang kelas dan asrama sederhana di Sekolah Rakyat, mimpi-mimpi itu disulam kembali. Ada yang ingin jadi psikolog, hakim, koki, atau dokter. Meski lahir dari keluarga sederhana, mereka punya hak yang sama untuk bermimpi dan mewujudkannya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Memahami Kaum Furry, Orang-orang yang Mengidentifikasi Dirinya sebagai Binatang
    Nah thats right thank you ~
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Menko PM Dorong Perumahan Jadi Ekosistem Ekonomi

23 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Menko PM Dorong Perumahan J...
Advertisement
Menko Perekonomian: Pekerja dengan Gaji Setara UMP Bakal Bebas Pajak

Menko Perekonomian: Pekerja dengan Gaji Setara UMP Bakal Bebas Pajak

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.