Lestari Moerdijat: Menuju Indonesia Emas, Bonus Demografi Harus Dikelola dengan Baik
📅 Rabu, 29 Okt 2025, 21:57 WIB | Oleh: SriyonoLewat Yayasan Kitong Bisa yang didirikan sejak 2009, Billy membangun komunitas untuk mencerdaskan anak-anak Papua. Ia membuka pendidikan di alam terbuka. Pendidikan, menurut dia, sangat penting diperhatikan kaum muda. “Sebab lewat pendidikan kita bisa mengurangi kemiskinan, terutama di Papua,” katanya.
Semangat kepemimpinan inklusif juga terus dikembangkan Nicky Clara (Pemimpin Muda Inklusif). Sampai sekarang ia terus memberdayakan kaum disabilitas. “Kepedulian kita kepada mereka harus terus diperjuangkan. Mereka juga punya mimpi,” tegasnya.
Nicky menganggap penting kehadiran ekosistem untuk menunjang para disabilitas. Mereka punya peluang menjadi pemimpin, karena jumlah mereka sangat besar (28 juta). “Mereka adalah warga masyarakat Indonesia, harus diberi kesempatan yang sama. Kita perlu duduk bersama.”
Shana Fatina dari Woman Green Entrepreneur mengatakan untuk melahirkan calon-calon pemimpin muda, potensi ekonomi yang memperhatikan lingkungan juga perlu dikembangkan, apalagi lingkungan kerap memunculkan konflik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat berkunjung ke NTT, ujarnya, khususnya para perempuan di sana termarginalkan saat mereka membutuhkan air. "Masa mereka membutuhkan air, harus membeli air. Secara tidak langsung hal ini semakin memiskinkan warga NTT. Padahal air adalah sumber yang tidak terbatas," ujarnya.
Ia lalu mengembangkan economic water guna memberikan akses lebih dekat kepada warga di NTT utuk mendapatkan air dengan mudah, di samping juga bisa dipakai untuk mengembangkan kewirausahaan warga di sana, khususnya anak-anak muda.
Sebagai penanggap, Ketua DPP Partai NasDem Bidang Pemilih Pemula dan Milenial Lathifa Al Anshori mengatakan, anak-anak yang lahir pada 2015-2029, pada tahun 2045 nanti yang akan menjadi pemimpin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia memberikan apresiasi kepada Rico Waas yang melestarikan budaya lokal. “Ya, kita memang perlu memberi kesempatan kepada anak muda untuk tampil dan peduli. Jangan sampai pada 2045, mereka tidak mengenal produk-produk budaya lokal bangsa ini.”
Menutup diskusi, Wartawan Senior Saur Hutabarat mengajak untuk melihat tujuh tokoh Sumpah Pemida 1928. Menurut Saur, dari tujuh sosok penggerak Sumpah Pemuda itu, mereka adalah pemikir, pencipta, dan pemilik (rumah di Jl Kramat Raya). Mereka berusia, paling muda 21 tahun dan paling tua 38 tahun.
Dalam rentang usia seperti itu, kata Saur, pada masanya mereka sudah memberikan apa yang mereka miliki kepada bangsa dan negara.
Pada 2045 nanti, anak-anak atau pemuda Indonesia yang kini berusia 1-18 tahun akan menjadi pemimpin bangsa ini. Persoalannya, kata Saur, “Adakah di antara mereka yang siap memberikan apa yang mereka miliki kepada bangsa dan negara?”
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!