Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Fenomena Langka Tata Surya, Chiron Sedang Membentuk Cincin

📅 Senin, 27 Okt 2025, 07:42 WIB | Oleh:
Fenomena Langka Tata Surya, Chiron Sedang Membentuk Cincin Doc: Wikimedia Commons
Ket. Sistem cincin Chariklo, terlihat di sini dalam konsep seniman, merupakan sistem cincin pertama di tata surya yang ditemukan di sekitar benda yang bukan planet raksasa.

DI ALAM semesta yang biasanya mengalami perubahan selama ribuan tahun, para astronom mendapatkan kesempatan langka untuk menyaksikan dunia es kecil di luar Saturnus membangun serangkaian cincin baru secara langsung.

Sebuah tim astronom yang berbasis di Brasil menemukan bahwa pita-pita material yang mengorbit (2060) Chiron. Materi ini merupakan sebuah objek selebar 125 mil atau 200 kilometer yang mengelilingi Matahari di antara Saturnus dan Uranus, masih baru dan masih dalam tahap pembentukan.

Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan sekitar Chiron berada dalam keadaan transisi antara awan puing yang kacau dan sistem cincin yang terbentuk sempurna, menawarkan kepada para ilmuwan gambaran langka tentang proses pembentukan cincin, yang belum pernah disaksikan secara langsung sebelumnya.

“Itu adalah kejutan yang menggembirakan,” ujar Chrystian Pereira, peneliti pascadoktoral di Observatorium Nasional Brasil yang memimpin penelitian ini, kepada Live Science. “Dalam arti tertentu, ini mengingatkan kita bahwa tata surya itu hidup dan terus berevolusi, bahkan dalam skala waktu manusia,” tambahnya.

Chiron bergabung dengan asteroid Chariklo dan planet katai Haumea dan Quaoar sebagai salah satu dari hanya empat planet kecil di Tata Surya yang diketahui memiliki cincin, tetapi mungkin yang paling dinamis di antara semuanya.

Lingkungan Chiron yang berubah dirinci dalam sebuah makalah yang diterbitkan 14 Oktober di Astrophysical Journal Letters. Apa yang dilaporkan dapat membantu para ilmuwan memahami bagaimana objek es kecil maupun planet raksasa seperti Saturnus dan Uranus membangun cincin ikonik mereka miliaran tahun yang lalu.

Cincin Sedang Terbentuk

Terdiri dari batuan, es air, dan senyawa organik, Chiron termasuk dalam populasi objek aneh yang disebut centaur, yang mengorbit antara Jupiter dan Neptunus. Benda ini berperilaku sebagian seperti asteroid dan sebagian seperti komet.

Chiron mengorbit matahari sekali setiap 50 tahun Bumi. Sejak penemuannya pada tahun 1977, para astronom telah melihatnya sesekali bersinar terang dan bahkan menumbuhkan ekor yang samar, bukti bahwa ia terkadang melepaskan gas dan debu ke luar angkasa.

Pada bulan September 2023, ketika Chiron melintas sebentar di depan sebuah bintang yang jauh dari sudut pandang Bumi, Observatorium Pico dos Dias di Brasil mendeteksi penurunan kecil yang berulang dalam cahaya bintang tersebut.

Saat para peneliti membandingkan data ini dengan peristiwa serupa yang dikatalogkan pada tahun 2011, 2018, dan 2022, mereka menemukan bahwa tiga cincin padat yang berbeda yang mengorbit pada jarak sekitar 170 hingga 270 mil (270 hingga 430 km) dari pusat Chiron telah tetap di tempatnya selama satu dekade.

Dalam data tahun 2023, tim juga menemukan struktur seperti cakram baru yang membentang dari sekitar 120 mil hingga 500 mil (200-800 km) di sekitar Chiron yang belum muncul dalam data sebelumnya. Cakram yang lebih luas dan menyebar kemungkinan besar baru terbentuk dalam dekade terakhir, kemungkinan akibat tabrakan atau letusan yang melepaskan material baru ke orbit, kata Pereira.

Menariknya, tim juga menemukan fitur luar samar yang berjarak hampir 1.400 km dari Chiron, jauh melampaui apa yang dikenal sebagai batas Roche, batas di mana material cincin seharusnya menggumpal menjadi bulan, alih-alih tetap menjadi puing, catat studi tersebut.

Para peneliti tidak yakin apa yang menyebabkan konfigurasi aneh Chiron. Salah satu kemungkinannya adalah es volatil di bawah permukaannya meletus dalam letusan seperti komet, menyemburkan debu dan es yang kemudian mengendap di orbit. Teori lainnya adalah bahwa sebuah bulan kecil pecah, menyebarkan pecahan-pecahan yang tersebar di sepanjang ekuator Chiron, menurut studi baru tersebut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Sidang perdana Bupati Pati ...
Daerah
Mengisi libur sekolah denga...

Target pengembangan florikultura

14 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Target pengembangan floriku...
Ekonomi
Edukasi literasi keuangan B...

Pasar Kangen Taman Budaya

24 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pasar Kangen Taman Budaya

Program Wisata Gratis Ramaikan HUT DKI Jakarta

34 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Program Wisata Gratis Ramai...
Megapolitan
Wara Wiri LRT JAKARTA Meria...
Daerah
Bursa Kerja di Jambi Bantu ...
Petakan Musim Kemarau di Sumsel, Simak Peta Perkembangannya dari BMKG

Petakan Musim Kemarau di Sumsel, Simak Peta Perkembangannya dari BMKG

22 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.