Pernyataan BRIN Agar Warga Jakarta Tak Perlu Khawatir Hujan Mikroplastik, Sangat Mengherankan
📅 Jumat, 24 Okt 2025, 16:29 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Selama ini para ahli mengatakan bahaya hujan mengandung mirkoplastik di Jakarta sangat berbahaya. Lalu mengapa Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova malah minta warga Jakarta tak perlu terlalu khawatir tentang kandungan mikroplastik di air hujan asalkan menerapkan gaya hidup sehat.
"Karena gaya hidup sehat memang berdasarkan dari berbagai macam penelitian, itu akan mempercepat kemungkinan polutan keluar dari dalam tubuh," kata dia di Jakarta, Jumat. Gaya hidup sehat ini, kata Reza, termasuk konsumsi buah dan sayur sesuai kebutuhan tubuh secara rutin. Konsumsi sumber serat tersebut akan meningkatkan kemungkinan keluarnya polutan yang masuk ke dalam tubuh.
Hal ini diamini Ketua Sub Kelompok Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Rahmat Aji Pramono. Dia juga menyarankan warga tak khawatir dengan temuan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta.
Selain menerapkan gaya hidup sehat untuk menjaga kekebalan tubuh, dia juga meminta warga rutin memantau kualitas udara sebelum keluar rumah. Warga Jakarta bisa memantau antara lain melalui aplikasi Jakarta Kini (JAKI) atau laman udara.jakarta.go.id.
"Saat musim kemarau, polusi lagi tinggi, kalau bisa keluar pakai masker. Kita bisa memantau kondisi udara seperti apa, PM 2,5-nya lebih tinggi atau tidak karena di dalam PM 2,5 ada mikroplastiknya," kata Rahmat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lalu, selain mengenakan masker, Rahmat juga menyarankan warga rutin membersihkan debu di dalam rumah, karena ini juga bisa mencegah terpapar mikroplastik dari dalam rumah.
Sebelumnya, hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menemukan kandungan mikroplastik dalam air hujan di Ibu Kota sejak penelitian ini mulai dilaksanakan tahun 2018. Temuan ini menunjukkan bahwa polusi plastik kini telah menjangkau atmosfer dan memerlukan langkah penanganan yang ilmiah, terukur dan kolaboratif.
Mempercepat Stroke dan Serangan Jantung
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Dinas Kesehatan Jakarta mengingatkan masyarakat bahwa mikroplastik yang akhir-akhir ini diketahui terkandung di air hujan di Jakarta bisa menambah risiko bagi pasien diabetes terkena stroke bila masuk ke dalam pembuluh darah.
"Ketika ada orang dengan penyakit tersebut, juga merokok, ditambah juga terpapar mikroplastik maka risiko terjadinya serangan jantung dan serangan stroke bisa meningkat," kata Ketua Sub Kelompok Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Jakarta, Rahmat Aji Pramono di Balai Kota Jakarta, Jumat.
Mikroplastik yang berasal dari degradasi limbah plastik termasuk serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban serta sisa pembakaran sampah plastik berukuran bahkan bisa lebih kecil dari debu dan bakteri. Rahmat menyampaikan, ketika masuk ke dalam organ tubuh, mikroplastik akan menimbulkan peradangan atau perlukaan di organ tersebut.
Bila peradangan terjadi di saluran pernapasan, misalnya, maka menyebabkan masalah kesehatan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan lainnya. Mikroplastik yang berukuran lebih kecil bahkan bisa ke dalam pembuluh darah dan mengakibatkan perlukaan di sana.
"Apalagi kalau perlukaannya di jantung, di otak, efeknya bisa serangan jantung maupun stroke. Tapi hal ini menjadi faktor risiko, bukan serta-merta mikroplastik ini menjadi agen tunggal penyebab penyakitnya," kata Rahmat.
Sementara pasien diabetes sebenarnya sudah berisiko lebih tinggi terkena stroke dibandingkan yang tidak, karena dapat merusak pembuluh darah.Rahmat mengatakan efek mikroplastik bagi kesehatan membutuhkan waktu bertahun-tahun atau tak seketika dialami mereka yang terpapar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!