BI Bunyikan Alarm: Tarif AS Seret Ekonomi Global ke Zona Lesu!
📅 Rabu, 22 Okt 2025, 16:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Rizka Khaerunnisa
JAKARTA – Membaca arah perkembangan ekonomi global bukan sekadar urusan analis atau ekonom papan atas.
Di era keterhubungan saat ini, siapa pun yang berkecimpung dalam dunia usaha, kebijakan publik, hingga sektor kreatif sekalipun, perlu memahami ke mana arus ekonomi dunia bergerak.
Pasalnya, perubahan di satu negara bisa memberi efek domino yang cepat ke berbagai lini, mulai dari nilai tukar, harga komoditas, hingga investasi.
Tren suku bunga global, pergeseran rantai pasok, hingga kebijakan teknologi hijau kini menjadi faktor kunci yang menentukan arah ekonomi ke depan.
Negara yang sigap membaca tanda-tanda ini biasanya mampu menyesuaikan strategi lebih awal—baik dalam menjaga stabilitas domestik maupun memanfaatkan peluang ekspor dan investasi baru.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebaliknya, abai terhadap dinamika global bisa membuat kebijakan ekonomi menjadi reaktif dan kehilangan momentum.
Karena itu, kemampuan “membaca cuaca ekonomi dunia” layaknya kompas yang menentukan arah kebijakan nasional: kapan harus menahan laju, kapan saatnya tancap gas.
Di tengah ketidakpastian global, mereka yang paling adaptif terhadap perubahan justru punya peluang terbesar untuk tumbuh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bank Indonesia (BI) memandang perekonomian dunia masih dalam tren melambat dampak tarif Amerika Serikat (AS) yang mendorong ketidakpastian global tetap tinggi.
“Perkembangan global ini menuntut kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak rambatan ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global yang masih tinggi tersebut terhadap perekonomian domestik,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2025 secara daring di Jakarta, Rabu (22/10).
AS kembali mengenakan tarif tambahan kepada sektor farmasi, mebel, dan otomotif sejak 1 Oktober 2025 serta mengumumkan rencana pengenaan tarif tambahan sebesar 100 persen terhadap produk asal Tiongkok.
Berbagai indikator menunjukkan kebijakan tarif AS memperlemah kinerja perdagangan global, tercermin dari melambatnya ekspor dan impor di sebagian besar negara.
Di AS, pertumbuhan ekonomi masih lemah, sehingga mendorong berlanjutnya penurunan kondisi ketenagakerjaan.
Ekonomi Jepang, Eropa, dan India belum kuat dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga di tengah stimulus fiskal dan moneter yang telah dilakukan. Sementara itu, perekonomian Tiongkok pada triwulan III-2025 meningkat didorong oleh stimulus fiskal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!