Maniliak Bulan di Padang Pariaman Menjadi Warisan Budaya Tak Benda
📅 Rabu, 15 Okt 2025, 02:12 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
PADANG – Setiap jelang Idul Fitri dan Idul Adha masyaraka Padang Pariaman menjalankan maniliak bula. Ini adalah tradisi umat Islam aliran Syattariyah di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat untuk menentukan 1 Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Kini maniliak bulan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) 2025.
"Kini Padang Pariaman memiliki 15 WBTB," kata Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Padang Pariaman, Revi Asneli, Selasa (14/10). Pendaftaran yang dilakukan pemerintah setempat ke Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) beberapa waktu lalu hingga ditetapkan sebagai WBTB merupakan salah satu upaya negara agar kegiatan yang dilaksanakan masyarakat di daerah itu selama ini diakui, dilindungi, dikembangkan, dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas nasional dan kekayaan bangsa.
Revi mengatakan pengakuan tersebut merupakan upaya pemerintah setempat agar budaya yang ada di Padang Pariaman tidak punah akibat perkembangan zaman. Salah satu tradisi yang beberapa hari yang lalu diakui Kemenbud sebagai WBTB yaitu 'Maniliak Bulan'.
Ia menyampaikan Maniliak Bulan biasanya dilakukan untuk menentukan awal puasa Ramadhan serta Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha yang dilaksanakan di pesisir Ulakan Tapakis.
Namun kemudian tidak jarang juga kegiatan itu dilakukan di banyak lokasi di Padang Pariaman khususnya di tempat-tempat yang mendukung melihat hilal dengan mata telanjang atau tidak menggunakan alat bantu seperti teropong. Lokasi-lokasi yang dapat melihat hilal dengan menggunakan mata telanjang tersebut yaitu di antaranya pantai dan perbukitan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di lokasi 'Maniliak Bulan', umat Islam aliran Syattariyah melaksanakan Salat Magrib berjamaah serta ketika sedang berpuasa maka mereka membawa bekal untuk berbuka puasa di lokasi tersebut.
Ia menyampaikan adapun dua tradisi di Padang Pariaman lainnya yang juga ditetapkan sebagai WBTbI 2025 yaitu 'Malacuik Marapulai' dan Indang Tigo Sandiang'. Ia menjelaskan 'Malacuik Marapulai' adalah prosesi adat yang ditempuh calon pengantin laki-laki sebelum akad nikah. Tradisi tersebut mencerminkan nilai tanggung jawab dan kedewasaan.
Sedangkan Indang Tigo Sandiang merupakan kesenian yang menampilkan tiga kelompok indang yang tampil bergantian dalam satu pertunjukan. Kesenian ini menggambarkan semangat kebersamaan dan harmoni sosial.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah setempat akan menggiatkan program-program pelestarian budaya yang telah berlangsung di tengah masyarakat di daerah itu. "Seperti 'Indang Tigo Sandiang' yang merupakan kesenian ditampilkan saat-saat kegiatan pemerintah," tambahnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!