Melihat Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Mau Dicapai dengan Cara Apa?
📅 Senin, 13 Okt 2025, 13:02 WIB | Oleh: Tim PenulisBerdasarkan kajian Bappenas dan LPEM-UI (2019), investment multiplier di Indonesia rata-rata mencapai 3,02, sementara studi Bank Indonesia (2022) menunjukkan credit-to-GDP multiplier sektor riil sebesar 3,7 kali. Bahkan riset LIPI (2020) mencatat output multiplier sektor perdagangan dan manufaktur ringan mencapai hampir 4 kali.
Dengan kata lain, setiap Rp1 dana pembiayaan produktif berpotensi menghasilkan Rp3 – Rp4 tambahan aktivitas ekonomi. Maka, jika Rp40 triliun dana publik dialirkan melalui model biaya dasar layanan, total nilai ekonomi baru yang tercipta dapat mencapai Rp120 triliun hingga Rp160 triliun per tahun, semua tanpa bunga dan tanpa membebani APBN.
Model biaya dasar layanan ini juga menjadi jawaban atas dilema lama antara subsidi dan profit. Selama ini, subsidi bunga, seperti pada Kredit Usaha Rakyat (KUR), sering menimbulkan distorsi. Dana publik tersedot untuk menambal margin bank, bukan untuk memperkuat sektor kerja.
Dengan sistem biaya dasar, lembaga keuangan tetap memperoleh kompensasi wajar atas jasanya, sementara pelaku usaha mendapat pembiayaan murah dan terukur. Negara pun dapat menghemat anggaran, tanpa mengorbankan fungsi sosial lembaga keuangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pertumbuhan berkeadilan
Pertumbuhan 8 persen tidak hanya bisa dicapai lewat investasi besar, tetapi juga dengan memperbaiki cara uang bekerja di tingkat paling dasar. Ketika lembaga keuangan berhenti menjual waktu dan mulai menjual pelayanan, efisiensi meningkat, risiko menurun, dan pemerataan ekonomi menjadi lebih nyata. Tapi perlu diakui, model ini butuh pilot project, pengawasan OJK, dan adaptasi.
Penerapan biaya dasar layanan bukan sekadar gagasan teknis, melainkan perubahan paradigma. Dari sistem yang mengejar margin menuju sistem yang mengejar keberlanjutan. Dari lembaga yang mencari untung menjadi lembaga yang memastikan uang benar-benar bekerja untuk manusia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jika 20 persen dana publik dijalankan dengan model ini dan berhasil mempercepat sektor riil, Indonesia akan membuktikan bahwa pertumbuhan tinggi tidak harus lahir dari bunga tinggi, cukup dari pelayanan yang jujur, efisien, dan berkeadilan.
Uang sejatinya diciptakan sebagai alat tukar, bukan komoditas perdagangan. Nilainya lahir ketika ia berpindah tangan dan menggerakkan kegiatan produktif, bukan ketika disimpan atau diperdagangkan untuk keuntungan semata.
Oleh karena itulah uang tak perlu bertambah oleh berlalunya waktu, sebab ekonomi akan tumbuh ketika uang telah bekerja dengan benar. (Penulis Baratadewa Sakti P adalah praktisi keuangan keluarga dan pendamping keuangan bisnis UMKM)
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!