Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jangan Jadi Alibi Impor! Ratna Juwita Sentil Keras Kebijakan E10 Menteri ESDM

📅 Kamis, 09 Okt 2025, 16:07 WIB | Oleh:
Jangan Jadi Alibi Impor! Ratna Juwita Sentil Keras Kebijakan E10 Menteri ESDM Doc: Istimewa
Ket. Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari.

JAKARTA - Rencana penerapan bahan bakar campuran E10 (10% etanol + 90% BBM) oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ternyata menuai sorotan tajam dari DPR. Anggota Komisi VII DPR RI, Ratna Juwita Sari, memberikan peringatan keras agar kebijakan ini tidak menjadi celah baru untuk membanjiri Indonesia dengan etanol impor.

Ratna menegaskan, dirinya bukan menolak kebijakan E10, bahkan mendukung penuh transisi menuju energi bersih. Namun, ia menyoroti kesiapan produksi etanol nasional yang masih jauh dari memadai.

“Saya mendukung E10 sebagai langkah menuju energi hijau dan pengurangan emisi. Tapi jangan sampai ini dijadikan alasan untuk impor etanol besar-besaran. Pemerintah harus menjamin pasokan etanol dari dalam negeri benar-benar cukup,” ujar politisi PKB tersebut dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (9/10/2025).

Ratna juga mendorong percepatan pembangunan pabrik bioetanol berskala besar di Bojonegoro, Jawa Timur, agar tidak hanya menjadi proyek seremonial. Menurutnya, tanpa langkah nyata, target E10 akan mustahil tercapai tanpa bergantung pada impor.

“Pabrik di Bojonegoro harus jadi prioritas nasional. Jangan hanya groundbreaking, tapi segera beroperasi. Kalau tidak, kita hanya akan berpindah dari ketergantungan minyak impor ke etanol impor,” tegasnya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, kapasitas produksi etanol nasional pada tahun 2024 baru mencapai 161 ribu kiloliter (kL) dari total kapasitas terpasang 303 ribu kL per tahun. Padahal, untuk memenuhi kebutuhan nasional jika E10 diterapkan penuh, Indonesia membutuhkan 890 ribu kL per tahun atau hampir tiga kali lipat dari kapasitas saat ini.

“Artinya, masih ada kekurangan lebih dari 700 ribu kL yang harus segera ditutupi dengan peningkatan produksi dalam negeri,” ungkap Ratna yang juga berasal dari Dapil Tuban–Bojonegoro itu.

Menurutnya, pemerintah harus belajar dari pengalaman penerapan biodiesel (B30) yang sukses karena kesiapan industri dan dukungan pasokan lokal yang kuat. Ia menegaskan, keberhasilan E10 hanya akan terwujud jika seluruh rantai pasok, mulai dari bahan baku tebu, proses produksi, hingga distribusi, dikuasai oleh industri nasional.

“Kebijakan energi hijau seharusnya memperkuat kemandirian, bukan memperlebar ketergantungan impor. Kalau Indonesia ingin benar-benar mandiri energi, kuncinya ada di produksi dalam negeri,” pungkasnya dengan nada tegas.

Kritik Ratna Juwita ini sekaligus menjadi peringatan bagi pemerintah agar transisi energi tidak berubah menjadi jebakan impor baru yang justru menggerus kedaulatan energi nasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Rona
Film Dokumenter Lisa Blackp...

Kemenperin Dorong Gen Z Kembangkan Industri Batik

1.5 jam yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Kemenperin Dorong Gen Z Kem...
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
G7 Akan Lepas 100 Juta Bare...
Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.