Kecepatan Arab Akan Diredam Timnas dengan Empat Bek
📅 Rabu, 08 Okt 2025, 16:31 WIB | Oleh: Aloysius WidiyatmakaHal ini dikarenakan, Indonesia lebih sering bingung mengalirkan bola setiap kali sampai di final third lawan. Kreativitas pada pertandingan itu tampak minim, dengan serangan Indonesia yang banyak bergantung pada crossing yang berulang kali gagal. Dari 20 crossing, hanya empat yang menemui sasaran menurut Lapang Bola.
Mereka masih belum menemukan formula yang tepat untuk membongkar karakter permainan Bahrain yang bermain tertutup rapat di belakang. Sembilan tembakan dilakukan dan tak ada yang menemui sasaran. Ini menjadi kali kedua tim Kluivert gagal melesatkan tembakan tepat sasaran, setelah sebelumnya saat melawan Jepang di Osaka.
Lebih jauh, hasil melawan Lebanon ini membuktikan Indonesia asuhan Kluivert masih sulit untuk mencetak gol seperti sebelum-sebelumnya. Di sisi lain, tim ini juga masih tergantung dengan sosok Ole Romeny, striker yang memborong semua gol Indonesia di era Kluivert pada babak kualifikasi. Adapun, Ole diragukan tampil untuk laga melawan Saudi nanti karena baru sembuh dari cedera parah yang menimpanya di Piala Presiden 2025 pada Juli lalu.
Mengungkapkan penilaiannya setelah pertandingan, Kluivert sewaktu itu mengatakan bahwa cara bermain Lebanon yang bertahan total di daerahnya sendiri, membuatnya timnya tak bisa berbuat banyak. "Kalau melihat cara Lebanon bermain, mereka benar-benar bertahan rapat di area sendiri. Itu membuat situasi mencetak gol lebih sulit," ungkap Kluivert.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski masih tumpul di area penyerangan, sisi positif dari sistem empat bek adalah solidnya duet Jay Idzes dan Kevin Diks selama 90 menit. Dua pemain yang sama-sama bermain di klub baru musim ini, dengan Idzes di Sassuolo dan Kevin di Borussia Moenchengladbach, menunjukkan kenyamanan beradaptasi dengan pola baru di timnas.
Harga Mati
Satu hal yang pasti, Kluivert patut diberikan apresiasi karena berani mencoba hal baru di timnas Indonesia pada FIFA Match Day bulan lalu. Kelebihan dan kekurangan kedua sistem itu pasti sudah dikantonginya, baik saat timnya bertahan maupun saat mereka menyerang. Tak hanya soal mencoba formasi, kesempatan menurunkan hampir semua pemain di Surabaya bulan lalu juga menjadi angin segar. Dari eksperimennya itu, Kluivert jadi tahu pemain yang benar-benar cocok bermain di sistemnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kini, saatnya ia menentukan pilihan: tetap dengan empat bek, atau kembali ke sistem tiga bek. Semua ada di tangannya. Semua ada baik dan buruknya. Tinggal mana yang paling "klik" dengan kualitas pemainnya. Sangat mungkin dia akan menerapkan empat bek, seperti dia cita-citakan. “Saya ingin memiliki sistem ini,” katanya.
Dengan jarak sedekat ini ke Piala Dunia, sejatinya tak ada lagi yang peduli soal formasi. Karena hanya satu hal yang benar-benar penting, hasil positif di lapangan. Dari hasil positif itu, hanya dengan kemenangan pintu Piala Dunia 2026 terbuka lebar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!