Panas Bumi sebagai Fondasi Transisi Energi Asia dan Jawaban atas Trilema Energi
📅 Senin, 06 Okt 2025, 19:15 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: PGE
JAKARTA - Pertamina Geothermal Energy PGE) menekankan peran Asia, khususnya Indonesia, dalam menavigasi keseimbangan antara energi fosil dan energi terbarukan. Dalam konteks ini, panas bumi dinilai sebagai fondasi utama transisi energi bersih, bukan hanya di tingkat nasional dan regional, tetapi juga global.
Panas bumi juga diyakini sebagai jawaban atas ‘trilema energy.’ Terlebih, Indonesia memiliki cadangan sekitar 24 gigawatt (GW), atau setara dengan 40% dari total potensi panas bumi dunia. Pandangan tersebut disampaikan Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Yurizki Rio padaajang Asia New Vision Forum (ANVF) 2025 di Singapura, September lalu.
“Hari ini, Asia tidak hanya berbicara soal dekarbonisasi, tetapi juga bagaimana menyeimbangkan kembali bauran energi. Energi fosil masih menjadi tulang punggung listrik baseload di banyak negara untuk menjaga ketahanan, dengan porsi sekitar 80% dari kebutuhan energi Asia,” ujar dia melalui keterangannta pada hari Senin (6/10).
“Namun, di saat bersamaan, permintaan listrik di kawasan ini terus melonjak. Untuk mencapai target iklim, Asia Tenggara perlu melipatgandakan investasi energi bersih hingga lima kali lipat, yakni menjadi sekitar 190 miliar dollar AS per tahun pada 2035. Ini adalah lompatan besar yang menunjukkan betapa mendesaknya akses terhadap modal baru,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa bagi Asia, transisi energi bukan sekadar menambah kapasitas gigawatt dari sumber terbarukan, tetapi juga memastikan listrik tetap tersedia dan industri tetap kompetitif. Dalam konteks ini, panas bumi dipandang sebagai sumber energi bersih yang ideal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Memiliki karakter sebagai sumber energi lokal yang andal dan tersedia sepanjang waktu, panas bumi tidak bergantung pada kondisi cuaca seperti angin atau matahari. Keunggulan ini memungkinkan negara-negara secara bertahap mengurangi ketergantungan pada batu bara tanpa harus mengorbankan stabilitas sistem energi.
“Transisi energi yang lebih luas harus mampu menjawab apa yang saya sebut sebagai ‘trilema energi’, yaitu keterjangkauan, keandalan, dan keberlanjutan. Jika salah satu terabaikan, maka akan menimbulkan instabilitas, setidaknya di Indonesia. Panas bumi secara alami menjawab ketiga aspek tersebut, yakni bersifat bersih dan berkelanjutan, andal sebagai baseload, serta dengan struktur pembiayaan yang tepat, tetap terjangkau dalam jangka panjang,” jelasnya.
Integrasi dan Pendanaan, Kunci Utama Transisi Energi Asia
Sebaiknya Anda baca juga:
Transisi energi tidak mungkin terwujud tanpa proyek berskala besar yang bankable. Pembangkit listrik, jaringan transmisi, hingga interkoneksi lintas batas membutuhkan pendanaan masif. Tantangan utamanya bukan pada ambisi, melainkan pada pembiayaan.
Menurut International Energy Agency (IEA), Asia-Pasifik perlu melipatgandakan investasi energi bersih hingga tiga kali lipat dalam kurang dari satu dekade, dari 770 miliar dollar AS saat ini menjadi lebih dari 2,3 triliun dollar AS per tahun pada 2030.
Yurizki menilai Indonesia menghadapi kebutuhan serupa. Setiap tahun dibutuhkan sekitar US$20–25 miliar di sektor energi, terutama untuk panas bumi, surya, dan hidro. Khusus panas bumi, meskipun andal, pembiayaannya sangat besar.
“Satu sumur produksi dapat menelan biaya hingga 5–6 juta dollar AS, sementara risiko eksplorasi membuat banyak investor ragu untuk terlibat,” ujarnya.
Ia juga turut mengungkapkan, PGE terus menjaga disiplin finansial dan memastikan proyek-proyek tetap bankable, sehingga menjadi mitra kredibel bagi modal internasional. Bagi PGE, kolaborasi bukan sekadar pendanaan, tetapi juga berbagi keahlian, membangun proyek bersama, dan menciptakan ekosistem energi bersih regional yang saling menguntungkan.
Rantai Manfaat Panas Bumi
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!