Berkaca dari Runtuhnya Ponpes Al Khoziny, Menko AHY Serukan Penegakan Standar Konstruksi Bangunan Publik
📅 Senin, 06 Okt 2025, 15:35 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: antara foto
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan pentingnya penegakan standar konstruksi bangunan publik. Hal itu berkaca dari tragedi ambruknya mushala Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim).
“Ini adalah peristiwa yang sangat serius ... Kita harus kembali pada pentingnya mematuhi standar konstruksi," ujar AHY usai menghadiri The 54th Earoph Regional Conference di Jakarta, Senin (6/10).
AHY mengaku telah berkoordinasi langsung dengan Menteri Pekerjaan Umum terkait insiden tersebut. Ia menyampaikan duka mendalam atas banyaknya santri yang menjadi korban akibat tertimpa reruntuhan bangunan.
Sejak awal kejadian, menurut AHY, fokus utama pemerintah adalah menyelamatkan para korban. Namun, proses evakuasi tidak berjalan mudah karena kondisi bangunan yang sangat buruk dan puing-puing besar yang membahayakan korban yang masih terjebak.
AHY juga menginstruksikan pemerintah daerah untuk melakukan pengecekan menyeluruh terhadap bangunan-bangunan publik, seperti sekolah, rumah sakit, dan pondok pesantren agar insiden serupa tak terulang.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Jangan sampai kita abai. SOP itu ada karena sudah melalui riset dan terbukti. Mari kita kawal bersama agar tidak ada lagi kejadian yang memakan korban seperti ini,” ucap dia.
Bangunan mushalla di lantai tiga Ponpes Al Khoziny ambruk pada Senin (29/9) saat tengah menjalani renovasi. Saat kejadian, ratusan santri sedang melaksanakan shalat berjamaah dan terjebak di bawah puing-puing.
Lebih dari 400 petugas petugas pencarian dan penyelamatan (SAR) dikerahkan untuk melakukan evakuasi. Namun, proses penyelamatan terkendala oleh struktur bangunan yang tidak stabil dan risiko ambruk susulan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Deputi Bidang Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Budi Irawan, menyatakan bahwa hingga Minggu (5/10), jumlah korban meninggal dunia mencapai 36 orang. Ia memperkirakan masih ada 27 santri yang belum ditemukan dan diduga masih terjebak di bawah reruntuhan.
Sementara itu, Basarnas Surabaya mencatat jumlah korban selamat bertambah menjadi 104 orang per Sabtu (4/10), setelah satu santri yang sebelumnya dinyatakan hilang ditemukan dalam kondisi selamat.
Presiden Prabowo Subianto turut merespons tragedi ini dengan memerintahkan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, untuk melakukan audit struktur bangunan di seluruh pondok pesantren guna mencegah insiden serupa di masa mendatang.
Sementara itu,Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan proses evakuasi korban runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, memasuki tahap akhir, tetapi masih ada 10 korban lagi.
Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Budi Irawan dalam keterangan di Jakarta, Senin (6/10), mengatakan bahwa pembersihan sisa puing bangunan dilakukan secara intensif dengan bantuan alat berat, seperti breaker excavator dan bucket excavator yang digunakan bergantian.
“Hari ini kita harapkan akan selesai pembersihan dan evakuasi,” ujarnya kepada pewarta dari posko tanggap darurat di Sidoarjo itu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!